MAKALAH
“Perencanaan
Karir di Sekolah-Sekolah”
Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Bimbingan Konseling
Dosen
Pengampu: Drs. Sarjono, M.Si
Oleh:
Khanifah Inabah
(11411022)
PAI VI
A
JURUSAN
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS
ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS
ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2014
BAB I
Latar Belakang
Pendidikan di jenjang sekolah menengah seyogyanya disiapkan untuk
melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi seperti perguruan tinggi. Tetapi pada
kenyataannya karena suatu sebab yang tidak dapat dihindarkan, misal karena
kemampuan, biaya tidak ada, ataupun sebab-sebab lain, maka pilihan selanjutnya
adalah bekerja.
Pekerjaan yang memuaskan sesuai dengan bakat,
minat, dan kemampuan diperlukan perencanaan secara matang. Di Indonesia
sendiri, pentingnya bimbingan karir bagi para siswa, khususnya di tingkat SMU
sudah dirasakan sejak lama, dan sejak ditetapkannya Kurikulum tahun 1984
bimbingan karir mulai diformalkan. Namun karena sempitnya pemahaman para
konselor di sekolah, sehingga dalam pelaksanaanya sering terjadi malpraktek
(dianggap sebagai bidang studi sehingga diajarkan), tidak diikuti dengan
assesmen yang tepat, informasi pekerjaan tidak diberikan secara mendalam,
terpadu, dan komprehensif, serta kurang dilaksanakan secara intensif. Akibatnya
hasil-hasil dari bimbingan karir tersebut masih jauh dari apa yang diharapkan.
Oleh karena pentingnya pengetahuan tentang
karir khususnya bagi carlon guru, dalam makalah ini akan dibahas mengenai apa
dan bagaimana bimbingan kariri tersebut.
A. Rumusan Masalah
Dari latar belakang masalah yang telah diuraikan tersebut, dan agar
permasalahan lebih mudah untuk dibahas, maka dalam makalah ini penulis
merumuskan beberapa pokok, seperti:
1. Apa pengertian bimbingan karir?
2. Apa saja teori pengembangan karir?
3. Apa saja bidang bimbingan karir?
4. Apa saja tujuan dan fungsi bimbingan karir?
5. Apa saja peran konselor dalam bimbingan karir?
6. Apa saja model dan teknik pengembangan bimbingan karir?
7. Bagaimana penyelenggaraan bimbingan karir?
B. Tujuan Penulisan
Berdasar perumusan masalah diatas, pengetahuan tentang pengembanagn media
pembelajaran penting untuk diketahui bagi pendidikan maupun calon pendidik.
Secara umum tulisan ini bertujuan untuk:
1. Untuk mengetahui pengertian bimbingan karir
2. Untuk mengetahui teori pengembangan karir
3. Untuk mengetahui bidang bimbingan karir
4. Untuk mengetahui tujuan dan fungsi bimbingan karir
5. Untuk mengetahui peran konselor dalam bimbingan karir
6. Untuk mengetahui model dan teknik pengembangan bimbingan karir
7. Untuk mengetahui penyelenggaraan bimbingan karir
BAB II
Pembahasan
Pembahasan
A. Pengertian Bimbingan Karir
Di lingkup sekolah, aktivitas yang dulu
disebut sebagai layanan informasi (yaitu menyediakan informasi tentang
pekerjaan dan pendidikan) sejak tahun 1970-an, konsep layanan dasarnya meluas
dan sebuah label baru (yang lebih tepat) diberikan: bimbingan karir.[1]
Gibson dan Mitchell mendefinisikan Karir
(career) sebagai jumlah total pengalaman kerja seseorang di dalam kategori
pekerjaan umum seperti mengajar, akutansi, pengobatan, atau penjualan.
Pekerjaan (occupation) adalah sebuah aktivitas spesifik dari pekerjaan atau
karya.
Masih menurut Gibson dan Mitchell,
pengembangan karir (career development) adalah aspek dari pengembangan total
individu yang menitihberatkan pembelajaran, persiapan, cara memasuki dan
kemajuan di dunia kerja. Pendidikan karir (career education) adalah pengalaman
pendidikan terencana yang memfasilitasi pengembangan karir seseorang dan
mempersiapkannya masuk ke dunia kerja. Sedangkan Bimbingan Karir (career
guidance) diartikan sebagai aktivitas
yang dilakukan konselor di berbagai lingkup dengan tujuan menstilmulsi dan
memfasilitasi perkembangan karir seseorang di sepanjang usia bekerjanya.
Aktivitas ini meliputi bantuan dalam perencanaan karir, pengambilan keputusan
dan penyesuaian diri.[2]
B. Teori-Teori Pengembangan Karir dan Pengambilan Keputusan
Untuk lebih memahami hakekat karir dapat
ditinjau dari teori-teori perkembangan karir yang dikemukakan oleh para ahli.
Menurut Gibson dan Mitchell (1995) paling tidak terdapat lima teori
perkembangan karir, yaitu : (1) teori proses, (2) teori perkembangan, (3) teori
kepribadian, (4) teori sosiologi, (5) teori ekonomi, dan (6) teori lain.[3]
a.
Teori Proses
Menurut teori proses, pilihan pekerjaan dan akhirnya
masuk dalam suatu pekerjaan tertentu sesuai pilihan adalah proses yang berisi
tahapan-tahapan tertentu yang akan dilalui oleh setiap individu. Salah satu
tokoh teori proses adalah Ginzberg. Menurut Ginzberg, perkembangan karir
terikat pada tiga eleman dasar, yaitu proses, iveribilitas, dan kompromi.
b. Teori
Perkembangan
Menurut teori ini memandang bahwa perencanaan karir
merupakan perkembangan karir pada seseorang sebagai aspek perkembangan
totalitas pribadi. Sebagaimana aspek perkembangan yang lain, perkembangan
jabatan berlangsung mulai sejak awal kehidupan dan berlangsung secara terus
menerus secara kontinum sampai akhir hayatnya.
c. Teori Kepribadian
Dalam teori ini memandang bahwa pilihan jabatan / pekerjaan merupakan
ekspresi dari kepribadian. Dinyatakan bahwa perilaku mencari pekerjaan
hakekatnya adalah upaya mencocokkan antara karakteristik individu dengan
lapangan pekerjaan khusus
d. Teori Sosiologi
Menurut Gibson dan Mitchell bahwa pilihan karir lebih
berhubungan dengan kesempatan dari pada sesuatu yang sengaja direncanakan.
Kesempatan tersebut salah satunya dipengaruhi oleh kelas social, disamping
factor-faktor lain seperti budaya, kondisi-kondisi yang dibawa sejak lahir atau
muncul kemudian, kesempatan pendidikan, dan observasi terhadap model.
e. Teori Ekonomi
Menurut Gibson dan Mitchell teori ini menekankan
pentingnya faktor-faktor ekonomi dalam pilihan karir. Hal ini terutama terkait
dengan tersedianya beberapa tipe pekerjaan versus tersedianya pekerja-pekerja
yang qualified untuk pekerjaan tersebut. Faktor utama dalam pilihan karir
adalah : “Apa jenis pekerjaan yang dapat saya peroleh?”. Pilihan karir terutama
berdasar kepada pertimbangan apakah pekerjaan tersebut dapat memenuhi kebutuhan
dasar diri sendiri dan keluarganya, keamanan pekerjaan, keuntungan (khususnya
asuransi kesehatan serta rencana pensiun) atau factor-faktor yang dianggap
paling menguntungkan dan paling bernilai pada individu tersebut (tidak selalu
dalam bentuk uang).
f. Teori lain
Termasuk dalam teori lain ini adalah teori belajar
social. Teori ini bermaksud menjawab pertanyaan mengapa seseorang memasuki
lapangan pekerjaan tertentu dan mengapa orang memperlihatkan preferensi kerja
tertentu. Salah satu tokoh dalam teori ini adalah Krumboltz yang mengembangkan
teori karirnya berdasar atas teori belajar sosial dari Bandura dan dikenal
sebagai teori pengambilan keputusan. Menurutnya pribadi dan lingkungan
merupakan faktor penting bagi penentuan keputusan karir seseorang. Pengambilan
keputusan karir juga tidak berlangsung secara kebetulan, tetapi ditentukan
pandangan dirinya sebagai hasil interaksi antara diri dan lingkungan tersebut,
melalui pengalaman, respon-respon kognitif dan perasaan, serta keterampilan
dalam membuat keputusan.
C. Bidang Bimbingan Karier
Dalam bidang bimbingan karier, membantu siswa
merencanakan dan mengembangakan masa depan karier. Bidang ini dapat dirinci
menjadi pokok-pokok berikut:
a. Pemantapan pemahaman diri berkenaan dengan kecenderungan karier yang hendak
dikembangkan.
b. Pemantapan orientasi dan informasi karier pada umumnya, khususnya karier
yang dikembangakan.
c. Orientasi dan informasi terhadap dunia kerja dan usaha memperoleh
penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidup.
d. Orientasi dan informasi terhadap pendidikan yang lebih tinggi, khususnya
sesuai dengan karier yang hendak dikembangkan.[4]
D. Tujuan dan Fungsi Bimbingan Karir dan Konseling
Secara umum tujuan bimbingan karir dan
konseling sebagai berikut:
a) Memiliki pemahaman diri (kemampuan, minat, dan kepribadian) yang terkait
dengan pekerjaan.
b) Memiliki pengetahuan mengenai dunia kerja dan informasi karir yang
menunnjang kematangan kompetensi kerja.
c) Memiliki sikap positif terhadap dunia kerja. Dalam arti mau bekerja dalam
bidang pekerjaan apa pun, tanpa merasa rendah diri, asal bermakna bagi dirinya
dan sesuai dengan norma agama.
d) Memahami relevansi kompetensi belajar (kemampuan menguasai pelajaran)
dengan persyaratan keahlian atau keterampilan bidang pekerjaan yang menjadi
cita-cita karirnya masa depan.
e) Memiliki kemampuan untuk membentuk identitas karir dengan cara mengenali
ciri-ciri pekerjaan, kemampuan (persyaratan) yang dituntut, lingkungan
sosiopsikologis pekerjaan, prospek kerja, dan kesejahteraan kerja.
f) Memiliki kemampuan merencanakan masa depan, yaitu merancang kehidupan
secara rasional untuk memperoleh peran-peran yang sesuai dengan minat, kemampuan,
dan kondisi kehidupan sosial ekonomi.
g) Mengenal keterampilan, minat, dan bakat. Keberhasilan atau kenyamanan dalam
suatu karir amat dipengaruhi oleh minat dan bakat yang dimiliki. Oleh karena
itu, setiap orang perlu memahami kemampuan dan minatnya. Dalam bidang pekerjaan
apa dia mampu dan apakah dia berminat terhadap pekerjaan tersebut.
h) Memiliki kemampuan atau kematangan untuk mengambil keputusan karier.
i)
Memiliki kemampuan untuk menciptakan suasana
hubungan industrial yang harmonis, dinamis, berkeadilan, dan bermartabat.[5]
Bimbingan karir merupakan usaha untuk
mengetahui dan memahami diri, memahami apa yang ada dalam diri sendiri dengan
baik, dan di pihak lain untuk mengetahui dengan baik pekerjaan apa saja yang
ada, persyaratan apa yang dituntut untuk pekerjaan itu. Dengan demikian ia akan
dapat memadukan apa yang dituntut oleh sesuatu pekerjaan atau karir dengan
kemampuan atau potensi yanga da dalam
dirinya.[6]
Fungsi Bimbingan Karir
Bimbingan karir merupakan salah satu aspek
dari bimbingan dan konseling secara keseluruhan. Melaksanakan bimbingan karir
tidak terlepas dari bimbingan secara menyeluruh, sehingga bimbingan yang lain
menjadi terbengkalai.
Bimbingan karir perlu dan penting diberikan
kepada para siswa, baik siswa SMP dan terlebih-lebih siswa SMA dengan alasan
sebagai berikut:
a. Para siswa di tingkat SMA pada akhir semester dua perlu menjalani pemilihan
program studi atau penjurusan.
b. Kenyataan menunjukkan bahwa tidak semua siswa yang tamat dari SMA akan
melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Siswa yang akan langsung
terjun dunia kerja tentu memerlukan bimbingan karir ini agar siswa dapat
bekerja dengan senang dan baik.
c. Siswa SMA merupakan angkatan kerja yang potensial. Merekalah yanga kan
menentukan bagaimana keadaan negara yang akan datang. Mereka adalah sumber daya
manusia dalam pembangunan.
d. Suatu kenyataan pula bahwa para siswa SMA sedang dalam masa remaja yang
merupakan masa peralihan dari masa anak ke masa dewasa. [7]
Siswa SMP juga membutuhkan bimbingan tersebut,
baik untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi maupun untuk
mencari pekerjaan bila karena sesuatu sebab tidak dapat melanjutkan sekolahnya.[8]
E. Peran konselor Sekolah di dalam Pengembangan Karir Siswa:
1. Konseling Karir
Program pendidikan karir dirancang untuk
menyiapkan individu bagi pemilihan karir secara bijak, namun banyak remaja dan
para dewasa muda tidak mampu mengatasi pengambilan keputusna yang kritis ini
tanpa bantuan konselor profesional,
2. Asasmen Karir
Salah satu aspek penting program pendidikan
karir menyediakan siswa-siswa peluang untuk menilai karakteristik pribadi
mereka terkait perencanaan karir dan pengambilan keputusan.
3. Sumber Daya Individu an Konsultan
Konselor sekolah tradisional secara aktif
dalam memperoleh bahan-bahan yang tepat bagi perencanaan dan pembuatan
keputusan karir.
4. Agen Perantara
Yang jelas, konselor akan semakin dituntut
aktif dalam upaya-upaya kolaborasi bukan hanya dengan para guru dan pihak lain
di lingkup sekolah, namun juga dengan lembaga komunitas dan pekerja.[9]
F. Model dan Teknik Rangkaian untuk Program Karir.
Model untuk Program Karir:
a. Orientasi kesadaran
b. Assesment diri
c. Penjajakan karir
d. Menentukan tujuan karir
e. Pengalaman kerja
f. Konteks karir
g. Tersedianya dunia kerja
h. Penempatan
Teknik Konseling Karir
Teknik konseling yang dapat digunakan dalam
konseling karir antara lain:
a) Konseling kelompok
b) Konseling perorangan
c) Konseling teman sebaya
d) Penempatan
G. Tipe Konseling Karir
Menurut Morrill dan Forrest ada empat tipe
konseling karir, yaitu:
a. Konseling yang membantu klien dengan suatu keputusan tertentu dengan
memberikan informasi dengan klarifikasi masalah.
b. Konseling yang membantu klien dengan suatu keputusan tertentu dengan
memusatkan perhatian pada keterampilan membuat keputusan.
c. Konseling yang memandang karir sebagai proses, bukan sebagai tujuan.
d. Konseling yang memusatkan perhatian pada usaha menanamkan kemampuan
menggunakan karakteristik personal klien untuk mencapai tujuan yang telah
ditetapkan klien sendiri.[10]
H. Penyelenggaraan Bimbingan Karir
Tujuan bimbingan karir akan dapat dicapai
dengan bermacam-macam cara, yaitu:
a. Bimbingan karir dilaksanakan dengan cara yang disusun dalam satu paket
tertentu, yaitu paket bimbingan karir. Setiap paket merupakan modul utuh yang
terdiri dari beberapa macam topik bimbingan. Berkaitan dengan hal ini pihak
yang berwenang, yaitu Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, telah mengeluarkan
paket yang dikenal dengan Paket Bimbingan Karir yang terdiri dari lima paket.
Paket I, yaitu mengenai pemahaman diri, Paket II mengenai nilai-nilai, Paket
III, mengenai pemahaman lingkungan, Paket IV mengenai hambatan dan cara
mengatasi hambatan, dan Paket V mengenai merencanakan masa depan.
b. Kegiatan bimbingan karir dilaksanakan secara instruksioanal. Dengan
demikian bimbingan karir tidak dilaksanakans ecara khusus, tetapi dipaduakn
dengan kegiatan belajar mengajar. Sehubungan dengan hal ini setiap guru dapat
memberikan bimbingan karir pada saat-saat memberikan pelajaran yang berhubungan
dengan suatu karir tertentu. Kenyataannya sulit karena guru harus mengenal
berbagai karir yanga dan waktu untuk pelajaran pokok akan terganggu.
c. Bimbingan karir dilaksanakan dalam bentuk pengajaran unit. Jika ini yang
ditempuh maka kegiatan bimbingan karir direncanakan dan diprogramkan oleh
sekolah. Dalam kaitan ini petugas bimbingan yang memberikan bimbingan karir
ini, dengan tidak memberikan beban kepada guru-guru lain. Dengan pola ini maka
perlu ada jam khusus.
d. Kegiatan bimbingan karir dilaksanakan pada hari-hari tertentu yang disebut
hari karir atau career day. Pada hari tersebut semua kegiatan bimbingan karir
dilaksanakan berdasarkan program bimbingan karir yang telah ditetapkan oleh
sekolah untuk tiap tahun. Kegiatan ini diisi dengan ceramah oleh orang yang
dianggap ahli dalam pekerjaan, misalnya pimpinan perusahaan, orang-orang yang
dipandang berhasil dalam dunia kerjanya, petugas dari Departemen Tenaga Kerja,
diskusi tentang pengembanagn karir, dan sebagainya.
e. Karyawisata karir yang diprogramkan oleh sekolah. Sudah barang tentu objek
karyawisata ini harus berkaitan dengan pengembangan karir siswa.[11]
I. Paket-Paket Bimbinagn Karir
Di depan tellah disingung mengenai paket-paket
bimbingan karir yang dikeluarkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
dalam rangka realisasi bimbingan karir tersebut. Paket tersebut terdiri dari paket
oemahaman diri sampai paket merencanakan masa depan.
Paket I adalah paket pemahaman diri, yaitu
suatu paket yang dimaksudkan untuk membantu siswa agar dapat mengetahui dan
dapat memahami siapa sebenarnya dirinya. Para siswa diharakan akan dapat
mengetahui dan memahami potensi, kemampuan, minat, bakat, cita-citanya. Oleh
karena itu Paket I ini terdiri dari (a) pengantar pemahaman diri, (b) bakat,
potensi dan kemampuan, (c) cita-cita/gaya hidup, dan (d) sikap. Dalam
pelaksanaannya siswa dituntut untuk dapat mencapai hal tersebut, sehingga dapat
mengetahui serta memahami keadaan dirinya. Pertanyaan “siapa saya” akan dijawab
Paket II adalah paket mengenai nilai-nilai.
Dengan paket ini siswa diharapkan akan dapat menegtahui serta memahami
nilai-nilai yang ada dalam dirinya dan juga nilai-nilai yang ada dalam
masyarakat. Berkaitan dengan hal tersebut, paket ini mencakup (a) nilai
kehidupan, (b) saling mengenal dengan nilai orang lain, (c) pertentangan
nilai-nilai dalam diri sendiri, (d) pertentangan nilai-nilai sendiri dengan
orang lain, (e) nilai-nilai yang bertentanan dengan kelompok atau masyarakkat,
dan (f) bertindak atas nilai-nilai sendiri.
Paket III adalah paket yang berkaitan dengan
pemahaman lingkungan. Dengan paket ini siswa diharapkan akan dapat mengetahui
serta memahami keadaan lingkunagan. Dengan mengetahui dan memahami lingkungan
maka siswa akan lebih tepat di dalam mengambil langkah. Paket ini mencakup
hal-hal yang berkaitan dengan (a) informasi pendidikan, (b) kekayaan daerah dan
pengembangannya, dan (c) informasi jabatan
Paket IV adalah paket yang berhubungan denagn
hambatan dan mengatasi hambatan. Dengan paket inisiswa diharapkan akan dapat
mengetahui dan memahami hambatan-hambatan apa yang ada dalam rangka pencapaian
tujuan, yaitu karir yang cocok, dan setelah mengetahui hambatannya maka akan mencoba
cara pemecahan atas hambatan yang ada. Paket ini mencakup hal-hal yang
berkaitan dengan (a) faktor pribadi, (b) faktor lingkungan, (c) manusia dan
hambatan, dan (d) cara-cara mengatasi hambatan.
Paket V adalah paket yang berkaitan dengan
merencanakan masa depan. Setelah siswa memahami apa yang ada dalam dirinya,
bagaimana keadaan dirinya, memahami nilai-nilai yang ada baik yang ada dalam
dirinya sendiri maupun yang ada dalam masyarakat, memahami lingkungan baik
mengenai informasi mengenai pendiidkan maupun informasi mengenai pekerjaan, dan
siswa juga telah memahami hambatan-hambatan yang ada baik yang ada dalam diri
sendiri maupun yang ada di luar, maka pada paket lima ini siswa diharapkan
telah mampu merencanakan masa depannya. Karena itu paket V ini mencakup hal-hal
yang berkaitan dengan (a) menyususn informasi diri, (b) mengelola informasi
diri, (c) mempertimbangkan alternatif (d) keputusan dan rencana, dan (e)
merencanakan masa depan. (Depdikbud, Bimbingan Karir 1984)[12]
Peran program konseling di lingkup sekolah
merupakan satu dari sekian kontribusi sekolah bagi pembelajaran, pertumbuhan,
dan perkembangan, dan persiapan bagi kerja anak-anak muda. Untuk
menitikberatkan peluang bagi pengambangan karir siswa, sejumlah prinsip pedoman
berikut dapat dijadikan tujuan yang tepat program konseling sekolah sekaligus
menjadi kerangka umum pengembangan karir yang baik:
1. Semua siswa mestinya disediakan kesempatan yang sama untuk mengembangkan
sebuah basis tidak bias dimana mereka bisa membuat keputusan karir mereka.
2. Pengembangan sedini mungkin dan berkesinambungan bagi sikap-sikap positif
siswa terhadap pendidikan adalah aspek yang sangat kritis.
3. Sebagai konsekuensi dari poin-poin sebelumnya, siswa mestinya diajar untuk
melihat karir sebagai cara hidup dan ppendidikan sebagai persiapan bagi
kehidupan.
4. Siswa mestinya dibantu untuk mengembangkan pemahamn yang tepat tentang diri
mereka dan harus dipersiapkan untuk meningkatkan pemahaman ini bagi
pengembangan pribadi-sosialnya dan bagi perencanaan karir pendidikan.
5. Siswa disemua jenjang harus diberikan pemahaman tentang hubungan antara
pendidikan dan karir.
6. Siswa memerlukan pemahaman tentang di mana dan kenapa mereka berada di
titik tertentu dari kontinum pendidikan di waktu tertentu.
7. Siswa di setiap jenjang ppendiidkan mestinya memiliki pengalaman
berorientasi-karir yang tepat sesuai tingaat kesiapan mereka sekaligus
kebermaknaan dan kerealistisannya.
8. Siswa harus memiliki kesempatan untuk mengetes konsep, keterampilan dan
peran untuk mengembangkan nilai yang dapat memiliki aplikasi karier di masa
depan.
9. Program bimbingan dan konseling karir yang di pusatkan di kelas, dengan
koordinasi dan konsultasi oleh konselor sekolah, partisipasi oleh orang tua,
dan kontribusi sumber daya oleh komunitas.
10. Program bimbingan dan konseling karir sekolah diintegrasikan menjadi
pemfungsian bimbingan dan konseling dan program-program pendidikan total
lembaga.
11. Siswa harus siap mengatasi perubahan dramatis di dunia kerja yang sudah
menghilangkan kebanyakan karakteristik tradisional karir di masa lalu.
12. Siswa mestinya dibantu mengmbangkan kedewasaan ayng dibutuhkan untuk
membuat keputusan karir yang efektif dan memasuki dunnia kerja.[13]
BAB III
Simpulan
·
Bimbingan Karir (career guidance) diartikan
sebagai aktivitas yang dilakukan
konselor di berbagai lingkup dengan tujuan menstilmulsi dan memfasilitasi
perkembangan karir seseorang di sepanjang usia bekerjanya. Aktivitas ini
meliputi bantuan dalam perencanaan karir, pengambilan keputusan dan penyesuaian
diri
·
Menurut Gibson dan Mitchell (1995) paling
tidak terdapat lima teori perkembangan karir, yaitu : (1) teori proses, (2)
teori perkembangan, (3) teori kepribadian, (4) teori sosiologi, (5) teori
ekonomi, dan (6) teori lain.
·
Bidang Bimbingan Karier
ü Pemantapan pemahaman diri berkenaan dengan kecenderungan karier yang hendak
dikembangkan.
ü Pemantapan orientasi dan informasi karier pada umumnya, khususnya karier
yang dikembangakan.
ü Orientasi dan informasi terhadap dunia kerja dan usaha memperoleh
penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidup.
ü
Orientasi dan informasi terhadap pendidikan
yang lebih tinggi, khususnya sesuai dengan karier yang hendak dikembangkan
1. Robert L. Gibson & Marianne H. Hitchell, Bimbingan
dan Konsleing, Pustaka Pelajar: Yogyakarta, 2011.
2. Dewa Ketut Sukardi, Pengaantar
Pengantar Pelaksanaan Program Bimbingan
dan Konseling di Sekolah, Rineka Cipta: Jakarta, 2000.
3. Walgito, Bimo, Bimbingan & Konseling
(Studi dan Karir), ANDI OFFSET: Yogyakarta, 2005.
4. Sutirna, Bimbingan dan Konseling Pendidikan
Formal, Nonformal dan Informal, (ANDI: Yogyakarta, 2013.
[1]
Robert L. Gibson & Marianne H. Hitchell, Bimbingan
dan Konsleing, (Pustaka Pelajar: Yogyakarta, 2011), hal.,53.
[4] Dewa Ketut Sukardi, Pengaantar Pengantar Pelaksanaan Program Bimbingan dan Konseling di
Sekolah, (Rineka Cipta: Jakarta, 2000), hal. 41.
[5] Sutirna, Bimbingan dan Konseling Pendidikan Formal, Nonformal dan
Informal, (ANDI: Yogyakarta, 2013), hal. 141.
[6] Walgito, Bimo, Bimbingan & Konseling (Studi dan Karir), ANDI
OFFSET: Yogyakarta, 2005), hal., 196.
[7] Walgito, Bimo, Bimbingan & Konseling (Studi dan Karir), ANDI
OFFSET: Yogyakarta, 2005), hal., 197.
[9]
Robert L. Gibson & Marianne H. Hitchell, Bimbingan
dan Konsleing, (Pustaka Pelajar:
Yogyakarta, 2011), hal., 487.
[10] Sutirna, Bimbingan dan Konseling Pendidikan Formal,
Nonformal dan Informal, (ANDI: Yogyakarta, 2013), hal. 142.
[11] Walgito, Bimo, Bimbingan & Konseling (Studi dan Karir), ANDI
OFFSET: Yogyakarta, 2005), hal., 199.
[13] Robert L. Gibson & Marianne H. Hitchell, Bimbingan dan Konsleing,
(Pustaka Pelajar: Yogyakarta, 2011), hal., 484
0 komentar:
Posting Komentar