MAKALAH
“Tinjauan
Filosufis Tentang Hakikat Kurikulum Pendidikan”
(Tujuan,
Materi, Metode dan Evaluasi)
Tugas ini disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Filsafat Pendidikan
Dosen Pengampu: Prof. Dr. Maragustam Siregar, M.A.
Disusun
Oleh:
Khanifah Inabah (11411022)
Eka Nurul W (11411008)
PAI IV
A
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS ILMU
TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGRI SUNANKALIJAGA
YOGYAKARTA
2013
Pendahuluan
A.
Latar Belakang
Pendidikan merupakan suatu kegiatan yag terencana. Di dalamnya
berintikan kegiatan antara peserta didik dan pendidik. Untuk itu pentingnya
sebuah kejelasan tujuan yang ingin dicapai untuk menyelaraskan kesemuanya.
Tujuan pendidikan yang ingin dicapai dimuat dalam suatu rancangan kurikulum.
Kurikulum merupakan bagian dari sistem pendidikan yang tidak bisa
dipisahkan dengan komponen sistem lainnya. Tanpa Kurikulum suatu sistem
pendidikan tidak dapat dikatakan sebagai sistem pendidikan yang sempurna. Ia
merupakan ruh yang menjadi gerak suatu sistem pendidikan. Kurikulum menjadi
landasan bagi terselenggaranya pendidikan yang baik. Bahkan, kurikulum
seringkali menjadi tolok ukur bagi kualitas dan penyelenggaraan pendidikan.
Baik buruknya kurikulum akan sangat menentukan terhadap baik buruknya kualitas
output pendidiksan, dalam hal ini, peserta didik.
Sehubungan
dengan vitalnya kurikulum dalam sebuah pendidikan, maka perlu kiranya
perumusan yang jelas dalam sebuah kurikulum, sepeti apa yang mendasari
kurikulum, metodenya, materinya, serta evaluasinya. Disini penulis akan
berusaha membahas persoalan kurikulum tersebut.
B.
Rumusan Masalah
Dari uraian
latar belakang masalah yang telah diuraikan tersebut, dan agar permasalahan
lebih mudah untuk dibahas, maka dalam makalah ini penulis merumuskan beberapa pokok,
seperti:
1. Apahakikat
kurikulum?
2. Apa dasar-dasar
kurikulum?
3. Apa
prinsip-prinsip penyususnan kurikulum?
4. Apa tujuan,
metode, evaluasi kurikulum?
C.
Tujuan Penulisan
Berdasar
perumusan masalah diatas, pengetahuan tentang kurikulum penting untuk diketahui
karena betapa urgen nya hal tersebut bagi pendidikan. Secara umum tulisan
ini bertujuan untuk:
1) Untuk
mengetahui apahakikat kurikulum.
2) Untuk
mengetahui dasar-dasar kurikulum.
3) Untuk
mengetahui apa prinsip-prinsip penyususnan kurikulum..
4) Untuk
menegtahui apa tujuan, metode, evaluasi kurikulum.
BAB II
Pembahasan
A.
Pengertian Kurikulum dan Hakikatnya
Istilah kurikulum berasal dari bahasa Latin, curriculumyang
arti asalnya a ranning course, or rase course dan dalam bahasa Perancis
berasal dari kata courier yang artinya berlari. [1]Jadi,
istilah kurikulum berasal dari dunia olahraga pada zaman Romawi Kuno yang
mengandung pengertian suatu jarak yang harus ditempuh oleh pelari dari garis
start sampai garis finish.[2]
Dalam bahasa Arab, kata kurikulum bisa diungkapkan dengan manhaj
yang berarti jalan yang terang yang dilalui oleh manusia pada berbagai bidang
kehidupan.[3]
Pengertian kurikulum yang terdapat daalm kamus Webster, Curriculum
is currently defined in the way: the course and class activities in wich
children and yauth engange; the total range of in class out of class exprencess
sponsored by the shool; and the total life experience the learner (Muhammad
Ali, 1992:5). Mengenai definisi tersebut, Ahmad Tafsir (2005:53) menjabarkan
bahwa kurikulum dapat diartikan menjadi dua macam: Pertama, sejumlah mata
pelajaran yang harus ditempuh atau dipelajari siswa di sekolah atau perguruan
tinggi yang memperoleh ijazah tertentu; Kedua, sejumlah mata pelajaran yang
ditawarkan oleh suatu lembaga pendidikan atau jurusan.[4]
Pandangan yang menyatakan kurikulum adalah rencana pelajaran di
suatu sekolah yang sering dikenal sebagai pandangan lama atau tradisional.
Dengan pandangan tersebut seolah-olah belajar di sekolah hanya sekedar membaca
buku-buku teks yang sudah di tentukan sebagai sumber bahan pelajaran. Kurikulum
menurut pandangan ini membagi kegiatan belajar ke dalam kegiatan kurikulum
(intra curricular). Kegiatan penyertaan kurikulum (co-curriculum) dan di luar
kegiatan kurikulum (ekstrakurikuler).
Sedangkan menurut pandangan baru atau modern, kurikulum tidak hanya
sekedar rencana pelajaran. Kurikulum diartikan sebagai sesuatu yang nyata yang
terjadi dalam proses pendidikan di sekolah, baik dalam kelas, di luar kelas,
dalam pergaulan mereka, olahraga, pramuka dan sebagainya yang diorganisir oleh
sekolah. Semua pengalaman tersebut menurut pandangan baru dianggap sebagai
kurikulum (Mahmud & Tedi Priatna,2005:135-137)[5]
Secara filosofis, hakikat kurikulum adalah model yang diacu oleh
pendidikan dalam upaya membentuk citra sekolah dengan mewujudkan tujuan
pendidikan yang disepakati. Oleh karena itu, setiap lembaga pendidikan memiliki
kurikulum masing-masing.[6]
Menurut Hasan
Langgulung, paling tidak ada empat aspek utama yang menjadi ciri-ciri ideal
sebuah kurikulum, yaitu:[7]
1.
Menurut tujuan pendidikan yang ingin dicapai
2.
Memuat sejumlah pengetahuan (knowledge) dan ketrampilan yang
memperkaya aktivitas-aktivitas dan pengalaman peserta didik, sesuai dengan
perkembangan peserta didik dan dinamika masyarakat
3.
Memuat metode, cara-cara mengajar dan bimbingan yang dapat diikuti
peserta didik untuk mendorongnya ke arah yang dikehendaki dan tercapainya
tujuan pendidikan yang dirumuskan
4.
Memuat metode dan cara penilaian yang digunakan untuk mengukur dan
menilai hasil proses pendidikan, baik aspek jasmani, akal, dan al-qalb.
B.
Dasar-dasar Kurikulum
Dua orang penulis pendidikan Islam, Al-Syaibani (1979:523-532) dan
Abdul Mujib (2006:125-131) menetapkan dasar pokok bagi kurikulum tersebut
sebagai berikut:[8]
1.
Dasar Religi
Pendidikan
Islam adalah pendidikan yang berdasarkana gama. Sehingga dasar religi menjadi
dasar utama. Dasar ini ditetapkan berdasarkan nilai-nili Ilahi. Penetapan
nilai-nilai tersebut berdasarkan pada Islam sebagai wahyu yang diturunkan Tuhan
untuk umat manusia.
2.
Dasar Filsafat
Dasar
filisofi menjadi petunjuk arah bagi tujuan pendidikan Islam. Sehingga kurikulum
mengandung kenbenaran sesuai dengan apa yang dikandung oleh pandangan hidup
tersebut (Islam).
Menurut
Abdul mujib (2006:126-128) dasar filosofis ini membawa pada tiga dimensi, yaitu
dimensi ontologis (objek atau sumber), dimensi epistemologis (cara), dan
dimensi aksiologis (manfaat). Uraiannya sebagai berikut:
a.
Dimensi ontologis. Dimensi ini mnegrahkan peserta didik untuk
berhubungn langsung dengan objek yang dikaji. Baik yang berbentuk realitas
fisik, ataupun realitas non fisik (ghaib).
b.
Dimensi epistemologis. Epistemologis menyangkut bagaimana kurikulum
dibentuk dan esensi atau konten kurikulum yang dapat mengarahkan cara
memperoleh pengetahuan bagi siswa. Dan kurikulum dinilai valid apabila
didasarkan pendekatan ilmiah. Jadi kurikulum harus bersifat universal,
reflektif dan kritis sehingga dimensi ini berimplikasi pada rumusan kurikulum.
c.
Dimensi aksiologis. Manfaat (aksiologis) dari rumusan kurikulum
pendidikan islam yang didasari denagn falsafah adalah untuk terciptanya tujuan
ideal dari pandangn hidup manusia. Dalam hal ini Islam. Alhasil aksiologisnya
didasarkan pula pada idealitas keberhasilan dalam Islam.
3.
Dasar Psikologis.
Dasar
psikologis kurikulum menurut pendidikan Islam mengandung kondisi peserta didik
berada pada dua posisi, yaitu sebagai anak yang hendak dibuna dan sebagai
pelajar yang hendak mengikuti proses pembelajaran. Dasar ini memberikan
landasan dalam perumusan kurikulum yang sejalan dengan perkembanagn psikis
peserta didik.
4.
Dasar Sosiologis.
Dasar
ini berimplikasi pada kurikulum pendidikan supaya kurikulum yang dibentuk
hendaknya dapat membantu pengembangan masyarakat. Terutama karena pendidikan
berfungsi sebagai sarana trasnfer of culture (pelestarian kebudayaan),
proses sosialisasi individu dan rekonstruksi sosial.
5.
Dasar Organisatoris.
Dasar
ini menjadi acuan dalam bentuk penyajian bahan pelajaran. Dasar ini berpijak
pada teori sikologi asosiasi yang emnagnggap keseluruhan sebagai kumpulan dari
bagian-bagiannya. Dan juga berpijak pada teori sikologi Gestalt yang menggap
keseluruhan mempengaruhi organisasi kurikulum yang disusun secara sistematis
tanpa adanya batas-batas antara berbagai mata pelajaran.
C.
Prinsip-prinsip Kurikulum.[9]
1.
Prinsip pertama adalah pertautan yang sempurna dengan agama,
termasuk ajaran dan nilainya.
2.
Prinsip kedua adalah prinsip menyeluruh (universal) pada tujuan dan
kandungan kurikulum
3.
Prisip ketiga adalah keseimbangan yang relatif antara tujuan dan
kandungan kurikulum
4.
Prinsip keempat berkaitan dengan bakat, minat kemampuan, dan
kebutuhan pelajar, begitu juga dengan alam sekitar fisik dan sosial tempat
pelajar itu hidup dan berinteraksi untuk memperoleh pengetahuan, kemahiran
pengalaman dan sikapnya
5.
Prinsip kelima adalah pemeliharaan perbedaan individual antara
pelajar dalam bakat, minat, kemampuan, kebutuhan dan masalahnya
6.
Prinsip keenam adalah perkambangan dan perubahan islam yang menjadi
sumber pengambilan falsafah, prinsip, dasar kurikulum
7.
Prinsip ketujuh adalah prinsip pertautan antara mata pelajaran,
pengalaman, dan aktiva yang terkandung dalam kurikulum.
D.
Tujuan, Metode, Evaluasi Kurikulum.
Kurikulum itu setidaknya terdiri dari empat unsur yaitu tujuan, isi
(materi), metode, dan evaluasi.[10]
a.
Tujuan.
Tujuan yang
utama dalam pendiidkan Islam adaalh membentuk pribadi muslim yang paripurna.
Memahami dirinya yang terdiri dari dua dimensi. Dimansi abdun atau hamba dan
dimensi khalifah atau pemimpin.
Nyatalah bahwa
menetapkan kurikulum itu harus berorientasi pada tujuan pendidikan yang hendak
dicapai. Meskipun ilmu pengetahuan sebagai bagian dari kebudayaan yang harus
manjadi kurikulum pendidikan keterbatasan waktu dan fasilitas untuk suatu
tingkat pendidikan maka haruslah adanya Skala Prioritas.[11]
Adapun hubungan
antara tujuan pendidikan dan kurikulum ialah hubungn antara tujuan dan isi
pendidikan. Oleh karena itu kurikulum merupakan isi dan jalan untuk mencapai
tujuan pendidikan, maka sesungguhnya kurikulum yang menyangkut masalah-masalah
nilai, ilmu, teori, skill, praktik, pembinaan mental dan sebagainya. Ini
bererti bahwa kurikulum itu harus menagndung isi pengalaman yang kaya demi
realisasi tujuan. Dengan perkataan lain kurikulum harus kaya dengan pengalaman-pengalamn
yang ebrsifat membina kepribadian.
Meskipun pada
dasarnya tujuan pendidikan yang pokok itu tetap, namun ini tak berarti bahwa
kurikulum itu harus tetap. Kurikulum justru harus berkembang yang sesuai dengan
perkembangan ilmu pengetahuan dan kebutuhan masyarakat untuk apa pendidikan itu
diselanggarakan. Dengan demikian kurikulum bersifat progresif, berkembang maju,
dinamis. Oleh karena itu kita selalu mengadakan evaluasi kurikulum.
Jadi, hubungn
kurikulum dengan pandangan filsafat terutama tampak pada bentuk-bentuk
kurikulum yang dilaksanakan. Jika asas filosofia itu menjadi latar belakang
pendidikan itu berupa nilai demokrasi misalnya, maka prinsip kebebesan, prinsip
berfikir, individualistis akan sellau diutamakan.
Adapun
salah satu tugas pokok dari filsafat pendidikan itu adalah memberikan kompas
atau arah dari tujuan pendidikan. Suatu tujuan pendidikan yang hendak dicapai
itu haruslah direncanakan atau diprogramkan dalam apa yang disebut kurikulum.[12]
b.
Materi.
Unsur yang kedua adalah isi (materi).
Ibnu Kaldun mengatakan sebagaimana dikutip oleh Abdul Mujib (2006:149-150)
pengelompokan isi kurikulum pendidikan Islam denagn dua tingkatan diantaranya:
Pertama, tingkatan pemula (manha jibtida’i), pada tingkatan ini materi
kurikulum difokuskan pada pembalajaran al-Quran dan as-Sunnah. Beliau memandang
bahwa al-Quran merupaka sumebr segala ilmu pengetahuan dan asas pelaksanaan
pendidikan Islam sedangkan as-Sunnah menjelaskan pemahaman terhadap isi
al-Quran.
Kedua,
tingkat atas (manhaj ‘ali) pada tingkatan ini memiliki dua kualifikasi
yaitu ilmu yang denga zat nya sendiri,
seperti ilmu syariah yang emncakup fiqh, tafsir hadist, ilmu kalam, dan ilmu
filsafat. Sedangkan ilmu yang ditunjukan bukan untuk zatnya sendiri seperti
ilmu lugha, ilmu mtematika, ilmu mantik.[13]
c.
Metode
Unsur
ketiga adalah pola pengajaran atau supaya lebih spesifik disebut metode
pembelajaran. Mengenai berbagai macam metode yang boleh digunakan dalam proses
pembelajaran telah diisyaratkan dalam al-Quran diantaranya adalah metode yang
terdapat dalam Q.S An-Nahl: 125 yang arinya: “Serulah (manusia) kepada jalan
Tuhan-mu dengan hikmah[845] dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan
cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa
yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang
mendapat petunjuk. “
Serta
metode mambaca yang diungkap dalam Q.S Al-Alaq ayat 1, yang artinya: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan”.
d.
Evaluasi.
Unsur keempat adalah evaluasi.
Evaluasi dalam pendidikan Islam mengutamakan aspek substansi.yang dievaluasi
adalah substansi kemakhlukan yaitu ketakwaan kepada Allah Swt. Jika ketakwaan
seseorang baik maka hasil evaluasi terhadap dirinya juga baik.[14]
Evaluasi pendidikan diartikan pula dengan
penilaian pendidikan, yakni kegiatan
menilai yang terjadi dalam aktivitas pendidikan. Evaluasi itu semacam
pengukuran karena dalam evaluasi digunakan alat ukur tertentu, misalnya alat
ukur untuk mengevaluasi keberhasilan anak didik dalam mata pelajaran bahasa
Inggris bidang percakapan adalah dengan alat ukur tes lisan, yakni semua anak
didik diuji keterampilan kecakapannya oleh pendidik satu persatu atau pendidik
mendengarkan percakapan yang dilakukan diantara muridnya.[15]
Manfaat evaluasi bagi para pendidik adalah
dapat diketahuinya tingkat kebarhasilan anak didik dalam pendidikan,
diketahuinya kelebihan dan kekurangan anak didik dalam pelajaran tertentu.
BAB III
Penutup
A.
Kesimpulan
·
Kurikulum diartikan sebagai sesuatu yang nyata yang terjadi dalam
proses pendidikan di sekolah, baik dalam kelas, di luar kelas, dalam pergaulan
mereka, olahraga, pramuka dan sebagainya yang diorganisir oleh sekolah.
·
Secara filosofis, hakikat kurikulum adalah model yang diacu oleh
pendidikan dalam upaya membentuk citra sekolah dengan mewujudkan tujuan
pendidikan yang disepakati. Oleh karena itu, setiap lembaga pendidikan memiliki
kurikulum masing-masing
·
Dasar Kurikulum:
o Dasar Religi
o Dasar Filsafat
o Dasar
Psikologis.
o Dasar
Sosiologis.
o Dasar Organisatoris.
·
Prinsip Kurikulum:
ü pertautan yang
sempurna
ü prinsip
menyeluruh (universal)
ü keseimbangan
ü berkaitan
dengan bakat, minat kemampuan, dan kebutuhan pelajar,
ü pemeliharaan
perbedaan individual
ü perkambangan
dan perubahan islam
ü pertautan
antara mata pelajaran.
BAB IV
Daftar Pustaka
Ahmad, Tafsir, Filsafat
Pendidikan Islami (Integrasi Jasmani, Rohani, dan Kalbu Memanusiakan Manusia), Bandung:
Remaja Rosdakarya, 2008.
Hamdani Ihsan
& A Fuad Hasan, Filsafat Pendidikan Islam, Bandung: Pustaka Setia, 1998.
Hasan, Basri, Filsafat
Pendidikan Islam, Bandung: Pustaka Setia, 2009.
Jalaluddin
& Abdullah Idi, Filsafat Pendidikan (Manusia, Filsafat, dan Pendidikan),
Jakarta: Gaya Media Pratama, 1997.
Mohammad, Ali, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Departemen
Agama RI, 2009.
Ramayulis &
Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam: Telaah Sistem Pendidikan dan
Pemikiran Para Tokohnya, Jakarta: Kalam Mulia, 2009.
[1]Hasan, Basri, Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung: Pustaka Setia,
2009), hal. 127.
[2]Ramayulis & Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam: Telaah
Sistem Pendidikan dan Pemikiran Para Tokohnya, (Jakarta: Kalam Mulia,
2009), hal. 192.
[3]Ibid.
[4]Mohammad, Ali, Filsafat
Pendidikan Islam, (Jakarta: Departemen Agama RI, 2009), hal. 198.
[5]Ibid.hal. 199.
[6]Hasan, Basri, Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung: Pustaka
Setia, 2009). Hal. 128
[7]Ramayulis & Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam: Telaah
Sistem Pendidikan dan Pemikiran Para Tokohnya, (Jakarta: Kalam Mulia,
2009), hal. 191.
[8]Mohammad, Ali, Filsafat
Pendidikan Islam, (Jakarta: Departemen Agama RI, 2009), hal. 201.
[9]Hamdani Ihsan & A Fuad Hasan, Filsafat Pendidikan Islam,
(Bandung: Pustaka Setia, 1998), Hal. 133.
[10]Mohammad, Ali, Filsafat
Pendidikan Islam, (Jakarta: Departemen Agama RI, 2009), hal. 219
[11]Jalaluddin & Abdullah Idi, Filsafat Pendidikan (Manusia,
Filsafat, dan Pendidikan), (Jakarta: Gaya Media Pratama, 1997), hal. 127.
[12]Ibid.hal. 128.
[13]Ibid.hal. 220.
[14]Ibid.hal. 222.
[15]Hasan, Basri, Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung: Pustaka
Setia, 2009). Hal. 142.
0 komentar:
Posting Komentar