Kamis, 26 September 2013

MAKALAH “Tinjauan Filosufis Tentang Hakikat Kurikulum Pendidikan” (Tujuan, Materi, Metode dan Evaluasi)



MAKALAH
Tinjauan Filosufis Tentang Hakikat Kurikulum Pendidikan”
(Tujuan, Materi, Metode dan Evaluasi)

Tugas ini disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Filsafat Pendidikan
Dosen Pengampu: Prof. Dr. Maragustam Siregar, M.A.

Disusun Oleh:

Khanifah Inabah                     (11411022)
Eka Nurul W                           (11411008)
PAI IV A


JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGRI SUNANKALIJAGA
YOGYAKARTA
2013


Pendahuluan
A.    Latar Belakang
Pendidikan merupakan suatu kegiatan yag terencana. Di dalamnya berintikan kegiatan antara peserta didik dan pendidik. Untuk itu pentingnya sebuah kejelasan tujuan yang ingin dicapai untuk menyelaraskan kesemuanya. Tujuan pendidikan yang ingin dicapai dimuat dalam suatu rancangan kurikulum.
Kurikulum merupakan bagian dari sistem pendidikan yang tidak bisa dipisahkan dengan komponen sistem lainnya. Tanpa Kurikulum suatu sistem pendidikan tidak dapat dikatakan sebagai sistem pendidikan yang sempurna. Ia merupakan ruh yang menjadi gerak suatu sistem pendidikan. Kurikulum menjadi landasan bagi terselenggaranya pendidikan yang baik. Bahkan, kurikulum seringkali menjadi tolok ukur bagi kualitas dan penyelenggaraan pendidikan. Baik buruknya kurikulum akan sangat menentukan terhadap baik buruknya kualitas output pendidiksan, dalam hal ini, peserta didik.
Sehubungan dengan vitalnya kurikulum dalam sebuah pendidikan, maka perlu kiranya perumusan yang jelas dalam sebuah kurikulum, sepeti apa yang mendasari kurikulum, metodenya, materinya, serta evaluasinya. Disini penulis akan berusaha membahas persoalan kurikulum tersebut.

B.     Rumusan Masalah
Dari uraian latar belakang masalah yang telah diuraikan tersebut, dan agar permasalahan lebih mudah untuk dibahas, maka dalam makalah ini penulis merumuskan beberapa pokok, seperti:
1.      Apahakikat kurikulum?
2.      Apa dasar-dasar kurikulum?
3.      Apa prinsip-prinsip penyususnan kurikulum?
4.      Apa tujuan, metode, evaluasi kurikulum?

C.    Tujuan Penulisan
Berdasar perumusan masalah diatas, pengetahuan tentang kurikulum penting untuk diketahui karena betapa urgen nya hal tersebut bagi pendidikan. Secara umum tulisan ini bertujuan untuk:
1)      Untuk mengetahui apahakikat kurikulum.
2)      Untuk mengetahui dasar-dasar kurikulum.
3)      Untuk mengetahui apa prinsip-prinsip penyususnan kurikulum..
4)      Untuk menegtahui apa tujuan, metode, evaluasi kurikulum.



BAB II
Pembahasan

A.    Pengertian Kurikulum dan Hakikatnya
Istilah kurikulum berasal dari bahasa Latin, curriculumyang arti asalnya a ranning course, or rase course dan dalam bahasa Perancis berasal dari kata courier yang artinya berlari. [1]Jadi, istilah kurikulum berasal dari dunia olahraga pada zaman Romawi Kuno yang mengandung pengertian suatu jarak yang harus ditempuh oleh pelari dari garis start sampai garis finish.[2]
Dalam bahasa Arab, kata kurikulum bisa diungkapkan dengan manhaj yang berarti jalan yang terang yang dilalui oleh manusia pada berbagai bidang kehidupan.[3]
Pengertian kurikulum yang terdapat daalm kamus Webster, Curriculum is currently defined in the way: the course and class activities in wich children and yauth engange; the total range of in class out of class exprencess sponsored by the shool; and the total life experience the learner (Muhammad Ali, 1992:5). Mengenai definisi tersebut, Ahmad Tafsir (2005:53) menjabarkan bahwa kurikulum dapat diartikan menjadi dua macam: Pertama, sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh atau dipelajari siswa di sekolah atau perguruan tinggi yang memperoleh ijazah tertentu; Kedua, sejumlah mata pelajaran yang ditawarkan oleh suatu lembaga pendidikan atau jurusan.[4]
Pandangan yang menyatakan kurikulum adalah rencana pelajaran di suatu sekolah yang sering dikenal sebagai pandangan lama atau tradisional. Dengan pandangan tersebut seolah-olah belajar di sekolah hanya sekedar membaca buku-buku teks yang sudah di tentukan sebagai sumber bahan pelajaran. Kurikulum menurut pandangan ini membagi kegiatan belajar ke dalam kegiatan kurikulum (intra curricular). Kegiatan penyertaan kurikulum (co-curriculum) dan di luar kegiatan kurikulum (ekstrakurikuler).
Sedangkan menurut pandangan baru atau modern, kurikulum tidak hanya sekedar rencana pelajaran. Kurikulum diartikan sebagai sesuatu yang nyata yang terjadi dalam proses pendidikan di sekolah, baik dalam kelas, di luar kelas, dalam pergaulan mereka, olahraga, pramuka dan sebagainya yang diorganisir oleh sekolah. Semua pengalaman tersebut menurut pandangan baru dianggap sebagai kurikulum (Mahmud & Tedi Priatna,2005:135-137)[5]
Secara filosofis, hakikat kurikulum adalah model yang diacu oleh pendidikan dalam upaya membentuk citra sekolah dengan mewujudkan tujuan pendidikan yang disepakati. Oleh karena itu, setiap lembaga pendidikan memiliki kurikulum masing-masing.[6]
Menurut Hasan Langgulung, paling tidak ada empat aspek utama yang menjadi ciri-ciri ideal sebuah kurikulum, yaitu:[7]
1.      Menurut tujuan pendidikan yang ingin dicapai
2.      Memuat sejumlah pengetahuan (knowledge) dan ketrampilan yang memperkaya aktivitas-aktivitas dan pengalaman peserta didik, sesuai dengan perkembangan peserta didik dan dinamika masyarakat
3.      Memuat metode, cara-cara mengajar dan bimbingan yang dapat diikuti peserta didik untuk mendorongnya ke arah yang dikehendaki dan tercapainya tujuan pendidikan yang dirumuskan
4.      Memuat metode dan cara penilaian yang digunakan untuk mengukur dan menilai hasil proses pendidikan, baik aspek jasmani, akal, dan al-qalb.

B.     Dasar-dasar Kurikulum
Dua orang penulis pendidikan Islam, Al-Syaibani (1979:523-532) dan Abdul Mujib (2006:125-131) menetapkan dasar pokok bagi kurikulum tersebut sebagai berikut:[8]
1.      Dasar Religi
Pendidikan Islam adalah pendidikan yang berdasarkana gama. Sehingga dasar religi menjadi dasar utama. Dasar ini ditetapkan berdasarkan nilai-nili Ilahi. Penetapan nilai-nilai tersebut berdasarkan pada Islam sebagai wahyu yang diturunkan Tuhan untuk umat manusia.
2.      Dasar Filsafat
Dasar filisofi menjadi petunjuk arah bagi tujuan pendidikan Islam. Sehingga kurikulum mengandung kenbenaran sesuai dengan apa yang dikandung oleh pandangan hidup tersebut (Islam).
Menurut Abdul mujib (2006:126-128) dasar filosofis ini membawa pada tiga dimensi, yaitu dimensi ontologis (objek atau sumber), dimensi epistemologis (cara), dan dimensi aksiologis (manfaat). Uraiannya sebagai berikut:
a.       Dimensi ontologis. Dimensi ini mnegrahkan peserta didik untuk berhubungn langsung dengan objek yang dikaji. Baik yang berbentuk realitas fisik, ataupun realitas non fisik (ghaib).
b.      Dimensi epistemologis. Epistemologis menyangkut bagaimana kurikulum dibentuk dan esensi atau konten kurikulum yang dapat mengarahkan cara memperoleh pengetahuan bagi siswa. Dan kurikulum dinilai valid apabila didasarkan pendekatan ilmiah. Jadi kurikulum harus bersifat universal, reflektif dan kritis sehingga dimensi ini berimplikasi pada rumusan kurikulum.
c.       Dimensi aksiologis. Manfaat (aksiologis) dari rumusan kurikulum pendidikan islam yang didasari denagn falsafah adalah untuk terciptanya tujuan ideal dari pandangn hidup manusia. Dalam hal ini Islam. Alhasil aksiologisnya didasarkan pula pada idealitas keberhasilan dalam Islam.

3.      Dasar Psikologis.
Dasar psikologis kurikulum menurut pendidikan Islam mengandung kondisi peserta didik berada pada dua posisi, yaitu sebagai anak yang hendak dibuna dan sebagai pelajar yang hendak mengikuti proses pembelajaran. Dasar ini memberikan landasan dalam perumusan kurikulum yang sejalan dengan perkembanagn psikis peserta didik.
4.      Dasar Sosiologis.
Dasar ini berimplikasi pada kurikulum pendidikan supaya kurikulum yang dibentuk hendaknya dapat membantu pengembangan masyarakat. Terutama karena pendidikan berfungsi sebagai sarana trasnfer of culture (pelestarian kebudayaan), proses sosialisasi individu dan rekonstruksi sosial.
5.      Dasar Organisatoris.
Dasar ini menjadi acuan dalam bentuk penyajian bahan pelajaran. Dasar ini berpijak pada teori sikologi asosiasi yang emnagnggap keseluruhan sebagai kumpulan dari bagian-bagiannya. Dan juga berpijak pada teori sikologi Gestalt yang menggap keseluruhan mempengaruhi organisasi kurikulum yang disusun secara sistematis tanpa adanya batas-batas antara berbagai mata pelajaran.

C.    Prinsip-prinsip Kurikulum.[9]
1.      Prinsip pertama adalah pertautan yang sempurna dengan agama, termasuk ajaran dan nilainya.
2.      Prinsip kedua adalah prinsip menyeluruh (universal) pada tujuan dan kandungan kurikulum
3.      Prisip ketiga adalah keseimbangan yang relatif antara tujuan dan kandungan kurikulum
4.      Prinsip keempat berkaitan dengan bakat, minat kemampuan, dan kebutuhan pelajar, begitu juga dengan alam sekitar fisik dan sosial tempat pelajar itu hidup dan berinteraksi untuk memperoleh pengetahuan, kemahiran pengalaman dan sikapnya
5.      Prinsip kelima adalah pemeliharaan perbedaan individual antara pelajar dalam bakat, minat, kemampuan, kebutuhan dan masalahnya
6.      Prinsip keenam adalah perkambangan dan perubahan islam yang menjadi sumber pengambilan falsafah, prinsip, dasar kurikulum
7.      Prinsip ketujuh adalah prinsip pertautan antara mata pelajaran, pengalaman, dan aktiva yang terkandung dalam kurikulum.

D.    Tujuan, Metode, Evaluasi Kurikulum.
Kurikulum itu setidaknya terdiri dari empat unsur yaitu tujuan, isi (materi), metode, dan evaluasi.[10]
a.       Tujuan.
Tujuan yang utama dalam pendiidkan Islam adaalh membentuk pribadi muslim yang paripurna. Memahami dirinya yang terdiri dari dua dimensi. Dimansi abdun atau hamba dan dimensi khalifah atau pemimpin.
Nyatalah bahwa menetapkan kurikulum itu harus berorientasi pada tujuan pendidikan yang hendak dicapai. Meskipun ilmu pengetahuan sebagai bagian dari kebudayaan yang harus manjadi kurikulum pendidikan keterbatasan waktu dan fasilitas untuk suatu tingkat pendidikan maka haruslah adanya Skala Prioritas.[11]
Adapun hubungan antara tujuan pendidikan dan kurikulum ialah hubungn antara tujuan dan isi pendidikan. Oleh karena itu kurikulum merupakan isi dan jalan untuk mencapai tujuan pendidikan, maka sesungguhnya kurikulum yang menyangkut masalah-masalah nilai, ilmu, teori, skill, praktik, pembinaan mental dan sebagainya. Ini bererti bahwa kurikulum itu harus menagndung isi pengalaman yang kaya demi realisasi tujuan. Dengan perkataan lain kurikulum harus kaya dengan pengalaman-pengalamn yang ebrsifat membina kepribadian.
Meskipun pada dasarnya tujuan pendidikan yang pokok itu tetap, namun ini tak berarti bahwa kurikulum itu harus tetap. Kurikulum justru harus berkembang yang sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan kebutuhan masyarakat untuk apa pendidikan itu diselanggarakan. Dengan demikian kurikulum bersifat progresif, berkembang maju, dinamis. Oleh karena itu kita selalu mengadakan evaluasi kurikulum.
Jadi, hubungn kurikulum dengan pandangan filsafat terutama tampak pada bentuk-bentuk kurikulum yang dilaksanakan. Jika asas filosofia itu menjadi latar belakang pendidikan itu berupa nilai demokrasi misalnya, maka prinsip kebebesan, prinsip berfikir, individualistis akan sellau diutamakan.
Adapun salah satu tugas pokok dari filsafat pendidikan itu adalah memberikan kompas atau arah dari tujuan pendidikan. Suatu tujuan pendidikan yang hendak dicapai itu haruslah direncanakan atau diprogramkan dalam apa yang disebut kurikulum.[12]
b.      Materi.
            Unsur yang kedua adalah isi (materi). Ibnu Kaldun mengatakan sebagaimana dikutip oleh Abdul Mujib (2006:149-150) pengelompokan isi kurikulum pendidikan Islam denagn dua tingkatan diantaranya: Pertama, tingkatan pemula (manha jibtida’i), pada tingkatan ini materi kurikulum difokuskan pada pembalajaran al-Quran dan as-Sunnah. Beliau memandang bahwa al-Quran merupaka sumebr segala ilmu pengetahuan dan asas pelaksanaan pendidikan Islam sedangkan as-Sunnah menjelaskan pemahaman terhadap isi al-Quran.
             Kedua, tingkat atas (manhaj ‘ali) pada tingkatan ini memiliki dua kualifikasi yaitu ilmu yang denga  zat nya sendiri, seperti ilmu syariah yang emncakup fiqh, tafsir hadist, ilmu kalam, dan ilmu filsafat. Sedangkan ilmu yang ditunjukan bukan untuk zatnya sendiri seperti ilmu lugha, ilmu mtematika, ilmu mantik.[13]
c.       Metode
             Unsur ketiga adalah pola pengajaran atau supaya lebih spesifik disebut metode pembelajaran. Mengenai berbagai macam metode yang boleh digunakan dalam proses pembelajaran telah diisyaratkan dalam al-Quran diantaranya adalah metode yang terdapat dalam Q.S An-Nahl: 125 yang arinya: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah[845] dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. “
             Serta metode mambaca yang diungkap dalam Q.S Al-Alaq ayat 1, yang artinya:   Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan”.
d.      Evaluasi.
            Unsur keempat adalah evaluasi. Evaluasi dalam pendidikan Islam mengutamakan aspek substansi.yang dievaluasi adalah substansi kemakhlukan yaitu ketakwaan kepada Allah Swt. Jika ketakwaan seseorang baik maka hasil evaluasi terhadap dirinya juga baik.[14]
     Evaluasi pendidikan diartikan pula dengan penilaian pendidikan, yakni  kegiatan menilai yang terjadi dalam aktivitas pendidikan. Evaluasi itu semacam pengukuran karena dalam evaluasi digunakan alat ukur tertentu, misalnya alat ukur untuk mengevaluasi keberhasilan anak didik dalam mata pelajaran bahasa Inggris bidang percakapan adalah dengan alat ukur tes lisan, yakni semua anak didik diuji keterampilan kecakapannya oleh pendidik satu persatu atau pendidik mendengarkan percakapan yang dilakukan diantara muridnya.[15]
     Manfaat evaluasi bagi para pendidik adalah dapat diketahuinya tingkat kebarhasilan anak didik dalam pendidikan, diketahuinya kelebihan dan kekurangan anak didik dalam pelajaran tertentu.







BAB III
Penutup
A.    Kesimpulan
·         Kurikulum diartikan sebagai sesuatu yang nyata yang terjadi dalam proses pendidikan di sekolah, baik dalam kelas, di luar kelas, dalam pergaulan mereka, olahraga, pramuka dan sebagainya yang diorganisir oleh sekolah.
·         Secara filosofis, hakikat kurikulum adalah model yang diacu oleh pendidikan dalam upaya membentuk citra sekolah dengan mewujudkan tujuan pendidikan yang disepakati. Oleh karena itu, setiap lembaga pendidikan memiliki kurikulum masing-masing
·         Dasar Kurikulum:
o   Dasar Religi
o   Dasar Filsafat
o   Dasar Psikologis.
o   Dasar Sosiologis.
o   Dasar Organisatoris.
·         Prinsip Kurikulum:
ü  pertautan yang sempurna
ü  prinsip menyeluruh (universal)
ü  keseimbangan
ü  berkaitan dengan bakat, minat kemampuan, dan kebutuhan pelajar,
ü  pemeliharaan perbedaan individual
ü  perkambangan dan perubahan islam
ü  pertautan antara mata pelajaran.

BAB IV
Daftar Pustaka

Ahmad, Tafsir, Filsafat Pendidikan Islami (Integrasi Jasmani, Rohani, dan Kalbu       Memanusiakan Manusia), Bandung: Remaja Rosdakarya, 2008.
Hamdani Ihsan & A Fuad Hasan, Filsafat Pendidikan Islam, Bandung: Pustaka Setia, 1998.
Hasan, Basri, Filsafat Pendidikan Islam, Bandung: Pustaka Setia, 2009.
Jalaluddin & Abdullah Idi, Filsafat Pendidikan (Manusia, Filsafat, dan Pendidikan), Jakarta: Gaya Media Pratama, 1997.
Mohammad, Ali, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Departemen Agama RI, 2009.
Ramayulis & Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam: Telaah Sistem Pendidikan dan Pemikiran Para Tokohnya, Jakarta: Kalam Mulia, 2009.




[1]Hasan, Basri, Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung: Pustaka Setia, 2009), hal. 127.

[2]Ramayulis & Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam: Telaah Sistem Pendidikan dan Pemikiran Para Tokohnya, (Jakarta: Kalam Mulia, 2009), hal. 192.

[3]Ibid.
[4]Mohammad, Ali, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Departemen Agama RI, 2009), hal. 198.
[5]Ibid.hal. 199.
[6]Hasan, Basri, Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung: Pustaka Setia, 2009). Hal. 128
[7]Ramayulis & Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam: Telaah Sistem Pendidikan dan Pemikiran Para Tokohnya, (Jakarta: Kalam Mulia, 2009), hal. 191.
[8]Mohammad, Ali, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Departemen Agama RI, 2009), hal. 201.
[9]Hamdani Ihsan & A Fuad Hasan, Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung: Pustaka Setia, 1998), Hal. 133.

[10]Mohammad, Ali, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Departemen Agama RI, 2009), hal. 219
[11]Jalaluddin & Abdullah Idi, Filsafat Pendidikan (Manusia, Filsafat, dan Pendidikan), (Jakarta: Gaya Media Pratama, 1997), hal. 127.

[12]Ibid.hal. 128.
[13]Ibid.hal. 220.
[14]Ibid.hal. 222.
[15]Hasan, Basri, Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung: Pustaka Setia, 2009). Hal. 142.