Senin, 02 Juni 2014

MAKALAH “Akhlak Muslim Kepada Allah“




MAKALAH
 Akhlak Muslim Kepada Allah

Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Akhlak dan Pembelajarannya
Dosen Pengampu: Rohinah, S.Pd.I, M.A


Oleh:
    

Khanifah Inabah       
Ahmad Afif  
Muhammad Fatchul Aziz


PAI III A

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGRI SUNANKALIJAGA
YOGYAKARTA
2014
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Sebagai seorang muslim hendaknya menyadari betapa banyak kenikmatan yang tidak bisa dihitung yang diberikan oleh Allah Swt. Nikmat-nikmat yang tidak terhitung itu dimulai semenjak kita berada di dalam rahim sampai dia kembali menghadap-Nya. Hendaknya kita mensyukuri dengan lisan dari hati yang terdalam serta dibarengi tindakan untuk menaati segala perintah-Nya. Begitulah kita beretika kepada Allah. Jangan sampai kita mengingkari kebaikan Allah Swt. karena hal itu tidaklah etis.[1]
Ada banyak tindakan yang bisa kita lakukan dalam upaya kita untuk mencerminkan rasa syukur kita kepada Allah Swt. atas segala nikmat yang diberikannya-Nya kepada kita. Ada beberapa etika yang akan dibahas pada makalah ini, seperti; taqwa, cinta dan ridha, ikhlas, dll.[2] Semua itu adalah bagian dari etika kita kepada Sang Maha Pencipta.
Semoga pemaparan makalah ini dapat bermanfaat bagi pemakalah pada khususnya dan bagi para pembaca pada umumnya.
B.     Rumusan Masalah
Dari uraian latar belakang masalah yang telah diuraikan tersebut, dan agar permasalahan lebih mudah untuk dibahas, maka dalam makalah ini penulis merumuskan beberapa contoh etika seorang musim kepada Allah Swt., diantaranya:
1.      Apa yang dimaksud dengan taqwa?
2.      Apa yang dimaksud dengan cinta dan ridha?
3.      Apa yang dimaksud dengan ikhlas
4.      Apa yang dimaksud dengan khauf dan raja’?
5.      Apa yang dimaksud dengan tawakal?
6.      Apa yang dimaksud dengan syukur?
7.      Apa yang dimaksud dengan muraqabah?
8.      Apa yang dimaksud dengan taubat?

C.    Tujuan Penulisan
Berdasar perumusan masalah diatas, pengetahuan tentang contoh etika kita sebagai muslim kepada Allah Swt. penting untuk diketahui karena betapa banyak nikmat yang Allah Swt. Berikan kepada kita, maka perlu mempelajari bagaimana etikanya kita bersikap kepada Allah Swt. Namun secara umum karya tulis ini bertujuan untuk :
1)      Memenuhi tugas dalam pelaksanaan penugasan untuk meningkatkan kemampuan dan kekreatifan berproses dalam pendidikan.
2)      Mengetahui dan memberikan pengetahuan dalam rangka perkembangan proses pendidikan, baik bagi penulis sendiri maupun bagi anggota kelas serta para pembaca.
3)      Mengetahui apa contoh-contoh etika muslim kepada Allah?

BAB II
Pembahasan

A.    Taqwa

Pengertian taqwa adalah memelihara diri dari siksaan Allah dengan mengikuti sgala perintah-Nya dan mnjauhi segala larangan-Nya.  ‘Afif ‘Abd al-Fattah Thabbarah dalam bukunya Rub ad-Din al-Islami mendefinisikan taqwa dengan : “ Seseorang memelihara dirinya dari segala sesuatu yang mengundang kemarahan Tuhannya dan dari segala sesuatu yang mndatangkan mudharat, baik bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain”. Thabbarah mengatakan bahwa makna asal dari taqwa adalah pemeliharaan diri.

Hakikat Taqwa
Ajaran Islam dibagi menjadi Iman, Islam dan Ihsan, maka hakikatnya taqwa adalah integralisasi ketiga dimensi tersebut.
Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi Sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. mereka Itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka Itulah orang-orang yang bertakwa. “ ( Q.S Al-Baqarah 2:177)
“ Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezk yang Kami anugerahkan kepada mereka. dan mereka yang beriman kepada kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-Kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat “. ( Q.S Al-Baqarah 2:2-4)
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau Menganiaya diri sendiri[229], mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (Q.S Ali Imran 3: 133-135)
Dalam Surat Ai-Baqarah ayat 177 Allah SWT mendefinisikan al-birru dengan Iman (Rukun Iman), Islam (mendirikan shalat dan menunaikan zakat) dan ihsan (mendermakan harta yang dicintai nya, menepati janji dan sabar).
Dalam Surat al-Baqarah ayat 3-4 di atas desebutkan empat kriteria orang-orang yang bertaqwa, yaitu :
-          Beriman kepada yang ghaib
-          Mendirikan shalat
-          Bersedekah
-          Beriman kepada kitab suci Al-Quran dan kitab-kitab suci sebelumnya
-          Beriman kepada hari akhir.
Sementara dalam surat Ali Imran ayat 134-135 disebutkan 4 di antara ciri-ciri orang yang bertaqwa yaitu :
-          Dermawan
-          Mampu menahan marah
-          Pemaaf
-          Istighfar dan taubat dari semua kesalahannya.
Kita dapat mengambil kesimpulan bahwa hakikat taqwa adalah memadukan secara integral aspek iman, Islam dan Ihsan dalam diri seseorang. Dengan demikian orang yang bertaqwa adalah orang yang dalam waktu bersamaan menjadi Mukmin, Muslim dan Muhsin.

Bertaqwa Secara Maksimal
Dalam surat Ali-Imran ayat 102 Allah SWT memerintahkan kepada orang-orang yang beriman supaya bertaqwa kepada-Nya dengan maksimal, yaitu dengan mengerahkan semua potensi yang dimiliki, Firman-nya :

$pkšr'¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãYtB#uä (#qà)®?$# ©!$# ¨,ym ¾ÏmÏ?$s)è? Ÿwur ¨ûèòqèÿsC žwÎ) NçFRr&ur tbqßJÎ=ó¡B ÇÊÉËÈ  
102. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam Keadaan beragama Islam. (QS. Ali-Imran 3:102)

Dalam ayat itu sudah dijelskan oleh Allah SWT cara bertaqwa secara maksimal yaitu dengan melakukan islamisasi seluruh aspek dan ruang lingkup kehidupan (Islamiyahal-hayah), karena bagaimana mungkin seorang dapat mati sebagai Muslim kalau dia tidak selalu menjadi Muslim sepanjang hidupnya.

Buah dari Taqwa
Seseorang yang brtaqwa kepada Allah SWT akan dapat memetik buahnya, baik didunia maupun akhirat, Buah itu antra lain:
-          Mendapatkan sikap furqan yaitu sikap tegas membedakan mana yang baik dan buruk.
-          Mendapatkan Limpahan berkah dari langit dan bumi
-          Mendapatkan jalan keluar dari keulitan
-          Mendapatkan rezeki tanpa diduga-duga
-          Mendapatkan kemudahan dalam urusannya
-          Menerima penghapusan dan pengampunan dosa serta mendapatkan pahala yang besar

B.     Cinta dan Ridha

Cinta adalah kesadaran diri, perasaan jiwa dan dorongan hati yang menyebabkan seseorang terpaut hatinya kepada apa yang dicintainya dengan penuh semangat dan asa kasih sayang. Bagi seorang mukmin, cinta, pertama dan utama sekali diberikan kepada Allah SWT. Allah lebih dicintai dari segala-galanya. Allah berfirman: (Al-baqarah 2:165)
  
165. Adapun orang-orang yang beriman Amat sangat cintanya kepada Allah. (QS. Al Baqarah 2:165)
Sejalan dengan cintanya kepada Allah Swt, seorang Mukmin akan mencintai Rasul dan jihad pada jalan-Nya. Inilah yang disebut denagn cinta utama. Sedangkan cinta kepada Ibu Bapak, anak-anak, sanak saudara, harta benda, kedududkan dan segala macamnya adalah cinta menengah yang harus berada di bawah cinta utam. Artinya, segala sesuatu baru boleh dicintai kalau diizinkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan pelaksanaan cinta itu harus pula sesuai dengan syariat yang telah diturunkan-Nya. Apabila cinta menengah diangkat melebihi cinta utama maka cintanya jatuh menjadi hina, tidak ada nilainya. Inilah yang disebut denagn cinta paling rendah.
Sejalan dengan cinta, seorang Muslim haruslah dapat bersikap ridha dengan segala aturan dan keputusan Allah Swt. Artinya dia harus dapat menerima sepenuh hati, tanpa penolakan sedikitpun segala sesuatu yang dating dari Alah dan Rasul-Nya, baik berupa perintah, larangan, maupun petunjuk-petunjuk lainnya. Dia ridha karena dia mencintai Allah dan yakin bahwa Allah lah yang Maha Pengasih dan Penyayang.
Demikian sikap cinta dan ridha kepada Allah Swt. Dengan cinta kita mengharap ridha-Nya, dan dengan ridha kita mengharapkan cinta-Nya.


C.    Ikhlas

Secara etimologis ikhlash (bahasa Arab) berakar dai kata lasha dengan arti bersih, jernih, murni; tidak bercampur. Secara terminologis yang dimaksud dengan ikhlas adalah beramal semata-mata mengharapkan ridha Allah SWT.
Dalam bahasa populernya ikhlas adalah berbuat tanpa pamrih; hanya semata-mata mengharapkan ridha Allah SWT.

Unsur Keikhlasan
-          Niat yang Ikhlas (ikhlash an-niyah)
Dalam Islam Faktor niat sangat penting. Apa saja yang dilakukanoleh seorang Muslim haruslah berdasarkan niat mencari ridha Allah SWT (lillahi rabbil’alamin), bukan berdasarkan motivasi lain.
-          Beramal dengan sebaik-baiknya (itqan al-amal)
Niat yang ikhlas harus diikuti dengan amal yang sebaik-baik nya. Harus membuktikanny dengn melakukan perbutan itu sebaik-baiknya.
-          Pemanfaatan hasil usaha dengan tepat (jaudah al-ada’)

Menyangkut dengan pemanfaatan hasil yng diperoleh. Misalnya menuntut ilmu. Setelah seorang Muslim berhasil mlalui dua tahap keikhlasan, yaitu niat ikhlas kerena Allah SWT dan belajar dengan rajin dll.
      Riya
Riya menghapuskan Amalan
Lawa dari ikhlas adalah riya. Yaitu melaksanakan sesuatu bukan karena Allah tetapi karena ingin dipuji atau karena pamrih lainnya.

D.    Khauf dan Raja’

Khauf dan Raja’ atau takut dan harap adalah sepasang sikap batin yang harus dimiliki secara seimbang oleh setiap Muslim. Bila salah satu domain dari yang lainnya akan melahirkan pribadi yang tidak seimbang. Yaitu sikap orang kafir dan orang-orang yang merugi, Allah SWT berfirman :
  
87. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir". (QS. Yusuf 12:87)

 
99. Tiada yang merasa aman dan azab Allah kecuali orang-orang yang merugi. (QS. Al-A’raf 7:99)
1.      Khauf
Khauf adalah kegalauan hati membayangkan sesuatu yang tidak disukai yang akan menimpanya, atau membayangkan hilangnya sesuatu yang disukainya. Dalam Islam semua rasa takut harus bersumber dari rasa takut kepada Allah SWT. Hanya Allah-lah yang berhak ditakuti oleh setiap orang yang mengaku beriman kepada-Nya.
2.      Raja’
Raja’ atau harap adalah memautkan hati kepada sesuatu yang disukai pada masa yang akan datang. Raja’ harus didahului oleh usaha yang sungguh-sungguh, harapan tanpa usaha namanya angan-angan kosong (tamanni).

E.     Tawakal

Tawakal adalah membebaaskan hati dari segala ketergantungan kepada selain Allah dan menyerahkan keputusan segala sesuatunya kepada-Nya.
Seorang Muslim hanya boleh bertawakal kepada Allah semata-mata. Allah SWT berfirman:

123. dan kepunyaan Allah-lah apa yang ghaib di langit dan di bumi dan kepada-Nya-lah dikembalikan urusan-urusan semuanya, Maka sembahlah Dia, dan bertawakkallah kepada-Nya. dan sekali-kali Tuhanmu tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan.

Tawakal dan Ikhtiar
Tawakal harus diawali dengan kerja keras dan usaha maksimal (ikhtiar). Tidaklah dinamai tawakal kalau hanya pasrah menunggu nasib sambil berpangku tangan tanpa elakukan apa-apa. Jangan Bertawakal Kepada Ikhtiar Sekalipun kita disuruh untuk berikhtiar sebelum bertawakal, disuruh mengikuti hukum sebab akibat, tetapi kita tidak boleh bertawakal kepada ikhtiar.
Hikmah Tawakal
Sikap tawakal sangat bermanfaat sekali untuk mendapatkan ketenngan batin. Sebab apabila seseorang telah berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mencapai sesuaatu mengerahkan segala tenaga dan dana, membuat perencanaan denagn sangan cermat dan detail, melaksanakan denagn penuh disiplin, dan pengawasan yang ketat. Kalau kemudian masih mengalami kegagalan, dia tidak akan berputus asa. Dia menerimanya sebagai ujian, musibah dari Allah Swt. Yang harus dihadapi denagns abar.

F.     Syukur

Syukur adalah memuji si pemberi nikmat atas kebaikan yang telah dilakukannya. Syukurnya seorang hamba berkisar atas tiga hal, yang apabila ketiganya tidak berkumpul, maka tidaklah dinamakan bersyukur, yaitu : mengakui nikmat dalam batin, membicarakannya secara lahir, dan menjadikannya sebagai sarana untuk taat kepadaAllah.

Tiga Dimensi Syukur
Sudah disebutkan bahwa syukur harus melibatkan tiga dimensi yaitu hati, lisan dan jawarih (anggota badan).
Keutamaan Syukur
Allah SWT memerintahkan kepada kaum Muslimin untuk bersyukur kepada-Nya. Firman-Nya:
 
152. karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya aku ingat (pula) kepadamu[98], dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku. (QS. Al-Baqarah 2:152)

[98] Maksudnya: aku limpahkan rahmat dan ampunan-Ku kepadamu.

Manusia diperintahkan bersyukur kepada Allah SWT bukanlah untuk kepentingan Allah itu sendiri, karena Allah SWT ghaniyun’anil ‘alamin (tidak memerlukan apa-apa dari alam semesta), tetapi justru untuk kepentingan manusia itu sendiri.

G.    Muraqobah

Muraqobah (raqaba) yang berarti menjaga, mengawal, menanti dan mengamati. Kesimpulannya raqaba adalam satu kata yaitu pengawsan. Karena bila seseorang mengwasi sesuatu dia akan mengamati, menantikan, menjaga dan mengawalnya. Jadi pengertian Muraqobah adalah kesadaran seseorang muslim bahwa dia selalu dalam pengawasan Allah SWT. Tidak ada satupun yang luput dari pengawasan-Nya. Dalam firman Allah SWT (QS. Al-An’am 6 :59)                                 

“ Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)" (QS. Al-An’am 6 :59)

Muhsabah
Kesadaran akan pengawasan Allah SWT akan mendorong seseorang Muslim untuk meelakukan muhasabah (perhitungan,evaluasi) terhadap amal perbuatan, tingkah laku dan sikap hatinya sendiri.
Dalam hal ini Muraqabah berfungsi sebagai jalan menuju Muhasabah. Dijelaskan oleh Ra’id ‘Abd al-Hadi dalam bukunya Mamarat al-Haq  bahwa Muhasabah dapat dilakukan sebelum dan sesudah amal. Dan ‘Abd al-Hadi mengutip ucapan Hasan-rahimahullah:”Allah mengasihi seorang hamba yang berhenti sebelum melakukan sesuatu; jika memang karena Allah, dia akan terus melangkah, tapi bila bukan karena-Nya dia akan mundur.


H.    Taubat

Taubat berakar dari kata taba yang berarti kembali. Orang yang bertaubat kepaa Allah SWT adalah orang yang kembli dari sesuatu menuju sesuatu; kembali dari sifat-sifat yang tercela menuju sifat-sifat yang terpuji, kembali dari larangan Allah menuju perintah-Nya, Kembali kepada Allah setelah meninggalkan-Nya.
Apabila seorang Muslim kesalahan atau kemaksiatan dia wajib segera taubat kepada Allah SWT, yaitu melanggar ketentuan syari’at Islam, baik dalam bentuk meninggalkan kewajiban atau melanggar larangan baik shaghair atau kabair. Allah SWT berfirman :

31. dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (QS. An-Nur 24:31)

Kita tahu Rasullulah saw adalah sebaik-baik manusia yang diciptakan oleh Allah SWT. Beliau tidak meninggalkan perintah Allah dan tidak pula pernah melanggar larangan-Nya. Mestinya kita lebih banyak lagi meminta ampun kepada Allah SWT.

   Tidak Ada Istilah Terlambat untuk Bertaubat
   Allah SWT Maha Penerima taubat. Betapapun besarnya dosa seorang manusia, apabila dia bertaubat, Allah pasti mengampuninya. Tidak ada sitilah terlambat untuk kebali kepada jalan kebenaran.

      Lima Dimensi Taubat
                  Dalam taubat yang sempurna harus ada lima imensi :
-          Menyadari kesalahan
-          Menyesali kesalahan
-          Memohon ampun kepada Allah SWT (istighfar)
-          Berjanji tidak akan mengulanginya
-          Menutupi kesalahan masa lalu dengan amal shaleh

Dalam taubat yang sempurna diatas dalam bahasa Al-Qur’an disebut taubat nashuha 

Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: "Ya Rabb Kami, sempurnakanlah bagi Kami cahaya Kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu." (QS. At-Tahrim 66: 8)

BAB III
PENUTUP
Contoh perilaku etika Muslim kepada Allah, diantaranya;
1.      Taqwa
2.      Cinta dan ridha
3.      Ikhlas
4.      Khauf dan raja’
5.      Tawakkal
6.      Syukur
7.      Muraqabah
8.      Taubat
Begitulah kita beretika kepada Allah. Jangan sampai kita mengingkari kebaikan Allah Swt. karena hal itu tidaklah etis.
 
BAB IV
DAFTAR PUSTAKA

Abu Bakar Jabir El Jazair, Pola Hidup Muslim [minhajul Muslim]: Etika, Bandung: Remaja Rosdakarya (1993).

Yunahar Ilyas, Kuliah Akhlak, Yogyakarta: LPPI (2001).











[1] Abu Bakar Jabir El Jazair, Pola Hidup Muslim [minhajul Muslim]: Etika, Bandung: Remaja Rosdakarya (1993), Hal. 7

[2] Yunahar Ilyas, Kuliah Akhlak, Yogyakarta: LPPI (2001).


0 komentar:

Posting Komentar