MAKALAH
Akhlak Muslim Kepada Allah
Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Akhlak
dan Pembelajarannya
Dosen Pengampu: Rohinah, S.Pd.I, M.A
Oleh:
Khanifah Inabah
Ahmad Afif
Muhammad Fatchul Aziz
PAI III A
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGRI SUNANKALIJAGA
YOGYAKARTA
2014
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Sebagai seorang
muslim hendaknya menyadari betapa banyak kenikmatan yang tidak bisa dihitung
yang diberikan oleh Allah Swt. Nikmat-nikmat yang tidak terhitung itu dimulai
semenjak kita berada di dalam rahim sampai dia kembali menghadap-Nya.
Hendaknya kita mensyukuri dengan lisan dari hati yang terdalam serta dibarengi tindakan untuk menaati
segala perintah-Nya. Begitulah kita beretika kepada Allah. Jangan sampai kita
mengingkari kebaikan Allah Swt. karena hal itu tidaklah etis.[1]
Ada banyak tindakan yang bisa kita lakukan dalam upaya kita untuk
mencerminkan rasa syukur kita kepada Allah Swt. atas segala nikmat yang
diberikannya-Nya kepada kita. Ada beberapa etika yang akan dibahas pada makalah
ini, seperti; taqwa, cinta dan ridha, ikhlas, dll.[2]
Semua itu adalah bagian dari etika kita kepada Sang Maha Pencipta.
Semoga
pemaparan makalah ini dapat bermanfaat bagi pemakalah pada khususnya dan bagi para
pembaca pada umumnya.
B.
Rumusan Masalah
Dari uraian
latar belakang masalah yang telah diuraikan tersebut, dan agar permasalahan
lebih mudah untuk dibahas, maka dalam makalah ini penulis merumuskan beberapa contoh
etika seorang musim kepada Allah Swt., diantaranya:
1. Apa yang dimaksud dengan taqwa?
2. Apa yang dimaksud dengan cinta dan ridha?
3. Apa yang dimaksud dengan ikhlas
4. Apa yang dimaksud dengan khauf dan raja’?
5. Apa yang dimaksud dengan tawakal?
6. Apa yang dimaksud dengan syukur?
7. Apa yang dimaksud dengan muraqabah?
8. Apa yang dimaksud dengan taubat?
C.
Tujuan Penulisan
Berdasar
perumusan masalah diatas, pengetahuan tentang contoh etika kita sebagai muslim
kepada Allah Swt. penting untuk diketahui karena betapa banyak nikmat yang
Allah Swt. Berikan kepada kita, maka perlu
mempelajari bagaimana etikanya kita bersikap kepada Allah Swt. Namun secara umum karya tulis ini bertujuan untuk :
1)
Memenuhi tugas dalam pelaksanaan penugasan untuk meningkatkan
kemampuan dan kekreatifan berproses dalam pendidikan.
2)
Mengetahui dan memberikan pengetahuan dalam rangka perkembangan
proses pendidikan, baik bagi penulis sendiri maupun bagi anggota kelas serta
para pembaca.
3) Mengetahui apa contoh-contoh etika muslim kepada Allah?
BAB II
Pembahasan
A.
Taqwa
Pengertian
taqwa adalah memelihara diri dari siksaan Allah dengan mengikuti sgala
perintah-Nya dan mnjauhi segala larangan-Nya.
‘Afif ‘Abd al-Fattah Thabbarah dalam bukunya Rub ad-Din al-Islami
mendefinisikan taqwa dengan : “ Seseorang memelihara dirinya dari segala
sesuatu yang mengundang kemarahan Tuhannya dan dari segala sesuatu yang
mndatangkan mudharat, baik bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain”. Thabbarah
mengatakan bahwa makna asal dari taqwa adalah pemeliharaan diri.
Hakikat Taqwa
Ajaran Islam
dibagi menjadi Iman, Islam dan Ihsan, maka hakikatnya taqwa adalah
integralisasi ketiga dimensi tersebut.
“ Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu
suatu kebajikan, akan tetapi Sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada
Allah, hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan
harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin,
musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan
(memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan
orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang
sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. mereka Itulah
orang-orang yang benar (imannya); dan mereka Itulah orang-orang yang bertakwa.
“ ( Q.S Al-Baqarah 2:177)
“ Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi
mereka yang bertaqwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang
mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezk yang Kami anugerahkan kepada
mereka. dan mereka yang beriman kepada kitab (Al Quran) yang telah diturunkan
kepadamu dan Kitab-Kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin
akan adanya (kehidupan) akhirat “. ( Q.S
Al-Baqarah 2:2-4)
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga
yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang
bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang
maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan
(kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan
(juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau Menganiaya diri
sendiri[229], mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa
mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? dan
mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (Q.S Ali Imran 3: 133-135)
Dalam Surat
Ai-Baqarah ayat 177 Allah SWT mendefinisikan al-birru dengan Iman (Rukun
Iman), Islam (mendirikan shalat
dan menunaikan zakat) dan ihsan (mendermakan
harta yang dicintai nya, menepati janji dan sabar).
Dalam Surat
al-Baqarah ayat 3-4 di atas desebutkan empat kriteria orang-orang yang
bertaqwa, yaitu :
-
Beriman kepada yang ghaib
-
Mendirikan shalat
-
Bersedekah
-
Beriman kepada kitab suci Al-Quran dan kitab-kitab suci sebelumnya
-
Beriman kepada hari akhir.
Sementara dalam
surat Ali Imran ayat 134-135 disebutkan 4 di antara ciri-ciri orang yang
bertaqwa yaitu :
-
Dermawan
-
Mampu menahan marah
-
Pemaaf
-
Istighfar dan taubat dari semua kesalahannya.
Kita dapat
mengambil kesimpulan bahwa hakikat taqwa adalah memadukan secara integral aspek
iman, Islam dan Ihsan dalam diri seseorang. Dengan demikian orang yang bertaqwa
adalah orang yang dalam waktu bersamaan menjadi Mukmin, Muslim dan Muhsin.
Bertaqwa Secara
Maksimal
Dalam surat
Ali-Imran ayat 102 Allah SWT memerintahkan kepada orang-orang yang beriman
supaya bertaqwa kepada-Nya dengan maksimal,
yaitu dengan mengerahkan semua potensi
yang dimiliki, Firman-nya
:
$pkr'¯»t tûïÏ%©!$#
(#qãYtB#uä (#qà)®?$#
©!$# ¨,ym ¾ÏmÏ?$s)è? wur ¨ûèòqèÿsC
wÎ) NçFRr&ur tbqßJÎ=ó¡B ÇÊÉËÈ
102. Hai orang-orang yang beriman,
bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah
sekali-kali kamu mati melainkan dalam Keadaan beragama Islam. (QS.
Ali-Imran 3:102)
Dalam ayat itu sudah dijelskan oleh Allah SWT cara bertaqwa secara
maksimal yaitu dengan melakukan islamisasi seluruh aspek dan ruang lingkup
kehidupan (Islamiyahal-hayah), karena bagaimana mungkin seorang dapat mati
sebagai Muslim kalau dia tidak selalu menjadi Muslim sepanjang hidupnya.
Buah dari Taqwa
Seseorang yang
brtaqwa kepada Allah SWT akan dapat memetik buahnya, baik didunia maupun
akhirat, Buah itu antra lain:
-
Mendapatkan sikap furqan yaitu sikap tegas membedakan mana yang
baik dan buruk.
-
Mendapatkan Limpahan berkah dari langit dan bumi
-
Mendapatkan jalan keluar dari keulitan
-
Mendapatkan rezeki tanpa diduga-duga
-
Mendapatkan kemudahan dalam urusannya
-
Menerima penghapusan dan pengampunan dosa serta mendapatkan pahala
yang besar
B.
Cinta dan Ridha
Cinta adalah
kesadaran diri, perasaan jiwa dan dorongan hati yang menyebabkan seseorang
terpaut hatinya kepada apa yang dicintainya dengan penuh semangat dan asa kasih
sayang. Bagi seorang mukmin, cinta, pertama dan utama sekali diberikan kepada
Allah SWT. Allah lebih dicintai dari segala-galanya. Allah berfirman:
(Al-baqarah 2:165)
165. Adapun orang-orang yang beriman Amat
sangat cintanya kepada Allah. (QS. Al Baqarah
2:165)
Sejalan
dengan cintanya kepada Allah Swt, seorang Mukmin akan mencintai Rasul dan jihad
pada jalan-Nya. Inilah yang disebut denagn cinta utama. Sedangkan cinta kepada
Ibu Bapak, anak-anak, sanak saudara, harta benda, kedududkan dan segala
macamnya adalah cinta menengah yang harus berada di bawah cinta utam. Artinya,
segala sesuatu baru boleh dicintai kalau diizinkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan
pelaksanaan cinta itu harus pula sesuai dengan syariat yang telah diturunkan-Nya.
Apabila cinta menengah diangkat melebihi cinta utama maka cintanya jatuh
menjadi hina, tidak ada nilainya. Inilah yang disebut denagn cinta paling
rendah.
Sejalan
dengan cinta, seorang Muslim haruslah dapat bersikap ridha dengan segala aturan
dan keputusan Allah Swt. Artinya dia harus dapat menerima sepenuh hati, tanpa
penolakan sedikitpun segala sesuatu yang dating dari Alah dan Rasul-Nya, baik
berupa perintah, larangan, maupun petunjuk-petunjuk lainnya. Dia ridha karena
dia mencintai Allah dan yakin bahwa Allah lah yang Maha Pengasih dan Penyayang.
Demikian
sikap cinta dan ridha kepada Allah Swt. Dengan cinta kita mengharap ridha-Nya,
dan dengan ridha kita mengharapkan cinta-Nya.
C.
Ikhlas
Secara
etimologis ikhlash (bahasa Arab) berakar dai kata lasha dengan arti bersih,
jernih, murni; tidak bercampur. Secara terminologis yang dimaksud dengan ikhlas
adalah beramal semata-mata mengharapkan ridha Allah SWT.
Dalam bahasa
populernya ikhlas adalah berbuat tanpa pamrih; hanya semata-mata mengharapkan
ridha Allah SWT.
Unsur
Keikhlasan
-
Niat yang Ikhlas (ikhlash an-niyah)
Dalam
Islam Faktor niat sangat penting. Apa saja yang dilakukanoleh seorang Muslim
haruslah berdasarkan niat mencari ridha Allah SWT (lillahi rabbil’alamin),
bukan berdasarkan motivasi lain.
-
Beramal dengan sebaik-baiknya (itqan al-amal)
Niat yang ikhlas harus diikuti dengan amal yang sebaik-baik nya.
Harus membuktikanny dengn melakukan perbutan itu sebaik-baiknya.
-
Pemanfaatan hasil usaha dengan tepat (jaudah al-ada’)
Menyangkut dengan
pemanfaatan hasil yng diperoleh. Misalnya menuntut ilmu. Setelah seorang Muslim
berhasil mlalui dua tahap keikhlasan, yaitu niat ikhlas kerena Allah SWT dan
belajar dengan rajin dll.
Riya
Riya
menghapuskan Amalan
Lawa dari
ikhlas adalah riya. Yaitu melaksanakan sesuatu bukan karena Allah tetapi karena
ingin dipuji atau karena pamrih lainnya.
D.
Khauf dan Raja’
Khauf dan Raja’
atau takut dan harap adalah sepasang sikap batin yang harus dimiliki secara
seimbang oleh setiap Muslim. Bila salah satu domain dari yang lainnya akan
melahirkan pribadi yang tidak seimbang. Yaitu sikap orang kafir dan orang-orang
yang merugi, Allah SWT berfirman :
87. Sesungguhnya tiada berputus asa dari
rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir". (QS. Yusuf 12:87)
99. Tiada yang merasa aman dan azab Allah
kecuali orang-orang yang merugi. (QS. Al-A’raf 7:99)
1.
Khauf
Khauf
adalah kegalauan hati membayangkan sesuatu yang tidak disukai yang akan
menimpanya, atau membayangkan hilangnya sesuatu yang disukainya. Dalam Islam
semua rasa takut harus bersumber dari rasa takut kepada Allah SWT. Hanya
Allah-lah yang berhak ditakuti oleh setiap orang yang mengaku beriman
kepada-Nya.
2.
Raja’
Raja’
atau harap adalah memautkan hati kepada sesuatu yang disukai pada masa yang
akan datang. Raja’ harus didahului oleh usaha yang sungguh-sungguh, harapan
tanpa usaha
namanya angan-angan kosong (tamanni).
E.
Tawakal
Tawakal adalah
membebaaskan hati dari segala ketergantungan kepada selain Allah dan
menyerahkan keputusan segala sesuatunya kepada-Nya.
Seorang Muslim
hanya boleh bertawakal kepada Allah semata-mata. Allah SWT berfirman:
123. dan kepunyaan Allah-lah apa yang ghaib
di langit dan di bumi dan kepada-Nya-lah dikembalikan urusan-urusan semuanya, Maka
sembahlah Dia, dan bertawakkallah kepada-Nya. dan sekali-kali Tuhanmu tidak
lalai dari apa yang kamu kerjakan.
Tawakal dan
Ikhtiar
Tawakal harus
diawali dengan kerja keras dan usaha maksimal (ikhtiar). Tidaklah dinamai
tawakal kalau hanya pasrah menunggu nasib sambil berpangku tangan tanpa
elakukan apa-apa. Jangan
Bertawakal Kepada Ikhtiar Sekalipun kita disuruh untuk berikhtiar sebelum
bertawakal, disuruh mengikuti hukum sebab akibat, tetapi kita tidak boleh
bertawakal kepada ikhtiar.
Hikmah Tawakal
Sikap tawakal
sangat bermanfaat sekali untuk mendapatkan ketenngan batin. Sebab apabila seseorang telah berusaha
dengan sungguh-sungguh untuk mencapai sesuaatu mengerahkan segala tenaga dan
dana, membuat perencanaan denagn sangan cermat dan detail, melaksanakan denagn
penuh disiplin, dan pengawasan yang ketat. Kalau kemudian masih mengalami
kegagalan, dia tidak akan berputus asa. Dia menerimanya sebagai ujian, musibah
dari Allah Swt. Yang harus dihadapi denagns abar.
F.
Syukur
Syukur adalah
memuji si pemberi nikmat atas kebaikan yang telah dilakukannya. Syukurnya
seorang hamba berkisar atas tiga hal, yang apabila ketiganya tidak berkumpul,
maka tidaklah dinamakan bersyukur, yaitu : mengakui nikmat dalam batin,
membicarakannya secara lahir, dan menjadikannya sebagai sarana untuk taat
kepadaAllah.
Tiga Dimensi
Syukur
Sudah
disebutkan bahwa syukur harus
melibatkan tiga dimensi yaitu hati, lisan dan jawarih (anggota badan).
Keutamaan
Syukur
Allah SWT
memerintahkan kepada kaum Muslimin untuk bersyukur kepada-Nya. Firman-Nya:
152. karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku
niscaya aku ingat (pula) kepadamu[98], dan bersyukurlah kepada-Ku, dan
janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku. (QS. Al-Baqarah 2:152)
[98]
Maksudnya: aku limpahkan rahmat dan ampunan-Ku kepadamu.
Manusia
diperintahkan bersyukur kepada Allah SWT bukanlah untuk kepentingan Allah itu
sendiri, karena Allah SWT ghaniyun’anil ‘alamin (tidak memerlukan apa-apa dari
alam semesta), tetapi justru untuk kepentingan manusia itu sendiri.
G.
Muraqobah
Muraqobah
(raqaba) yang berarti menjaga, mengawal, menanti dan mengamati. Kesimpulannya
raqaba adalam satu kata yaitu pengawsan. Karena bila seseorang mengwasi sesuatu
dia akan mengamati, menantikan, menjaga dan mengawalnya. Jadi
pengertian Muraqobah adalah kesadaran seseorang muslim bahwa dia selalu dalam
pengawasan Allah SWT. Tidak ada satupun yang luput dari pengawasan-Nya. Dalam
firman Allah SWT (QS. Al-An’am 6 :59)
“ Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada
yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan
dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia
mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi,
dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab
yang nyata (Lauh Mahfudz)"
(QS. Al-An’am 6 :59)
Muhsabah
Kesadaran akan
pengawasan Allah SWT akan mendorong seseorang Muslim untuk meelakukan muhasabah
(perhitungan,evaluasi) terhadap amal perbuatan, tingkah laku dan sikap hatinya
sendiri.
Dalam hal ini
Muraqabah berfungsi sebagai jalan menuju Muhasabah. Dijelaskan oleh Ra’id ‘Abd
al-Hadi dalam bukunya Mamarat al-Haq
bahwa Muhasabah dapat dilakukan sebelum dan sesudah amal. Dan ‘Abd
al-Hadi mengutip ucapan Hasan-rahimahullah:”Allah mengasihi seorang hamba yang
berhenti sebelum melakukan sesuatu; jika memang karena Allah, dia akan terus
melangkah, tapi bila bukan karena-Nya dia akan mundur.
H.
Taubat
Taubat berakar
dari kata taba yang berarti kembali. Orang yang bertaubat kepaa Allah
SWT adalah orang yang kembli dari sesuatu menuju sesuatu; kembali dari sifat-sifat
yang tercela menuju sifat-sifat yang terpuji, kembali dari larangan Allah
menuju perintah-Nya, Kembali kepada Allah setelah meninggalkan-Nya.
Apabila seorang
Muslim kesalahan atau kemaksiatan dia wajib segera taubat kepada Allah SWT,
yaitu melanggar ketentuan syari’at Islam, baik dalam bentuk meninggalkan
kewajiban atau melanggar larangan baik shaghair atau kabair. Allah SWT
berfirman :
31. dan bertaubatlah kamu sekalian kepada
Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (QS. An-Nur 24:31)
Kita tahu
Rasullulah saw adalah sebaik-baik manusia yang diciptakan oleh Allah SWT.
Beliau tidak meninggalkan perintah Allah dan tidak pula pernah melanggar
larangan-Nya. Mestinya kita lebih banyak lagi meminta ampun kepada Allah SWT.
Tidak Ada Istilah Terlambat untuk Bertaubat
Allah SWT Maha Penerima taubat. Betapapun
besarnya dosa seorang manusia, apabila dia bertaubat, Allah pasti
mengampuninya. Tidak ada sitilah terlambat untuk kebali kepada jalan kebenaran.
Lima Dimensi Taubat
Dalam taubat yang sempurna harus ada lima imensi :
-
Menyadari kesalahan
-
Menyesali kesalahan
-
Memohon ampun kepada Allah SWT (istighfar)
-
Berjanji tidak akan mengulanginya
-
Menutupi kesalahan masa lalu dengan amal shaleh
Dalam taubat yang sempurna diatas dalam bahasa Al-Qur’an disebut taubat
nashuha
“Hai
orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa
(taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi
kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di
bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan
orang-orang mukmin yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan
dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: "Ya Rabb Kami,
sempurnakanlah bagi Kami cahaya Kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau
Maha Kuasa atas segala sesuatu." (QS.
At-Tahrim 66: 8)
BAB III
PENUTUP
Contoh perilaku etika Muslim kepada Allah,
diantaranya;
1. Taqwa
2. Cinta dan ridha
3. Ikhlas
4. Khauf dan raja’
5. Tawakkal
6. Syukur
7. Muraqabah
8. Taubat
Begitulah kita beretika kepada Allah. Jangan sampai kita mengingkari
kebaikan Allah Swt. karena hal itu tidaklah etis.
BAB IV
DAFTAR PUSTAKA
0 komentar:
Posting Komentar